Lentera Hati: Memaafkan itu Akar Ketentraman Jiwa, Pohon Pengokoh Hati Yang Membuahkan Kebahagiaan | Berita Populer Lazismu



MEMAAFKAN ITU MENCERAHKAN
Oleh: Ustadz M. Khairul Anam, M.Pd.I

Apa yang kita rasakan, ketika kita disakiti orang lain? Apalagi di sakiti berkali-kali?. Secara naluri kita mungkin akan marah, jengkel dan akan berusaha untuk membalas kezaliman itu. Bahkan mungkin saja kita akan membalas lebih atas kezalimannya kepada kita.

Tentu sikap ini apabila tidak segera dipangkas akan membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia itu sendiri, baik bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Bagi kehidupan pribadi, seseorang yang memiliki sikap ini akan gelisah hatinya dan terkuras energinya karena memikirkan bagaimana ambisi untuk balas dendam itu terpuaskan. Adapun bagi kehidupan bermasyarakat, sikap ini akan menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan hingga memakan korban baik harta maupun jiwa.

Agar kehidupan ini tenang dan tentram, maka sikap yang hanya ingin memperturutkan nafsu dendam harus diganti dengan sikap mulia yang diajarkan Islam yaitu sikap memaafkan. Jika masing-masing pihak atau salah satunya memiliki sikap ini, maka konflik yang terjadi akan reda hingga berakhir tanpa ada benih-benih dendam lagi.

Untuk menjadi pribadi yang pemaaf memang tidak mudah. Apalagi jika luka di hati telah terlanjur menganga. Dalam kondisi seperti ini kadang yang muncul justru perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai fisik dan hati. Sehingga jangankan mendoakan kebaikan, memaafkan kesalahannya saja masih sangat berat.

Keengganan untuk memberi maaf akan menguat manakala kesempatan untuk menuntut balas terhampar luas di hadapan. Ditambah lagi jika status sosial orang yang berbuat salah itu berada jauh di bawah kita. Jika hati tidak ada benteng iman, bisa-bisa ambisi nafsu untuk balas dendam akan menjelma menjadi tindakan nyata.

Untuk bisa memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada kita butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang mampu memberi maaf meski dia berada pada pihak yang benar dan memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada orang yang telah berbuat jahat kepadanya, maka itulah tanda kemuliaan dan ketakwaan dirinya. Satu di antara tanda orang bertakwa adalah tidak berat untuk memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman “ “…dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali-Imran : 134).

Memang dalam syariat Islam diperbolehkan untuk menuntut balas terhadap kejahatan yang ditimpakan kepada kita dengan balasan yang serupa. Namun memaafkan merupakan sikap yang jauh lebih baik dan lebih mulia daripada membalas kejahatannya meski dengan balasan yang serupa.

Sikap inilah yang pernah dicontohkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Atas petunjuk dari Allah SWT, dia lebih memilih memaafkan anak bibinya yang bernama Misthah. Yang telah menfitnah putrinya ‘Aisyah berselingkuh. Abu Bakar memaafkan dengan tulus daripada membalas kejahatannya meski dia berada pada pihak yang benar dan juga mampu untuk melakukan pembalasan karena status sosial jauh lebih tinggi daripada anak bibinya itu. Akhlaq mulia yang dimiliki Abu Bakar inilah yang patut kita teladani dan kita tumbuh suburkan dalam pribadi kita.

Memaafkan itu membuat wajah cerah dan beraseri-seri, hati terasa ringan karena tidak ada beban dendam membara. Sementara orang yang menuruti hawa nafsu amarahnya atau dendam, maka hatinya akan gelisah, kepalanya pusing kemanapun pergi yang ada adalah kebencian, amarah yang harus terlampiaskan. Dan itu artinya kita telah memelihara penyakit dalam hati kita sendiri.

Perasaan jengkel pasti akan membebani hidup kita, karena akan terbawa kemana-mana. Selama satu bulan kita di diklat oleh Allah melalui puasa. Dan inti puasa adalah pengendalian diri yakni mengendalikan hawa nafsu kita dari segala perbuatan tercela termasuk salah satunya adalah tidak pendendam. Langkah bijak yang kita lakukan setelah puasa adalah menjadi pribadi pemaaf. Karena ini akan meringankan langkah hidup kita. Tentu saja memafkan tidak serta merta menghilangkan saksi hukum yang memang harus di terima oleh seseorang tersebut akibat perbuatannya.

Memaafkan itu mencerahkan. Selain ini perintah agama sebenarnya ini juga untuk kepentingan diri kita sendiri karena hidup akan terasa lapang, dan menyehatkan. karena kemanapun kita melangkah mungkin itu bekerja atau ibadah, pasti akan lebih produktif, pekerjaan cepat selesai dan lebih khusyu’ dalam beribadah.

Hidup yang kita jalani saat ini tujuannya tidak lain untuk mencapai kebahagiaan. Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang dapat membuat kita bahagia? Berlimpah kekayaan, meraih posisi puncak di kantor, atau memiliki mobil keluaran terbaru? Semua itu sifatnya materi fisik saja. Padahal ada hal-hal yang sifatnya batiniah justru lebih membahagiakan. Salah satunya adalah memaafkan.

Dan Satu hal lagi yang berkaitan erat dengan memaafkan adalah ketulusan. Saat kita  memaafkan dengan tulus, maka kebahagiaan akan diraih. Niat yang tulus berangkat dari hati yang jujur. Mengakui, apakah saat ini hati kita  sedang terluka, sedih, merana atau marah? Kejujuran itu penting. kita  tak perlu mengubah apapun. Karena kita  tidak akan pernah bisa mengubah lingkungan dan orang lain. Semua itu adalah kenyataan yang harus diterima. Bila hal itu diabaikan atau ditolak, reaksi yang terjadi akan menyiksa batin. Semua tergantung penerimaan kita. Lebih cepat diterima, maka prosesnya akan lebih mudah.

Saudaraku! Memaafkan itu mencerahkan, lihatlah perbedaan wajah antara pemaaf dan pendendam tentu sangat jauh berbeda. Kalau wajah pemaaf rona mukanya berseri-seri, murah senyum kepada siapa saja, rileks, sorot mataya teduh menggambarkan kedamaian. Tapi sebaliknya wajah pendendam. Mukanya kusam dan masam, senyumnya kecut pandangannya picik dan  sinis.” Maka itu Jadilah kamu pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh “ Al-A’rof : 199.

Memaafkan manusia, Dimaafkan Allah…Sesungguhnya Allah SWT Sang Pencipta alam semesta ini memiliki sifat-sifat mulia yang patut kita teladani. Dan pemaaf merupakan salah satu sifat mulia yang dimiliki Allah SWT. Sehingga tak pantaslah jika manusia yang banyak khilaf dan lupa tak mau menjadi pemaaf.

Semoga Allah mengaruniai kita sifat pemaaf, suka memberi dan suka menyambung persaudaraan sehingga kita sehat jasmani dan rohani. Wallahu a’lamu bish-shawab.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1441 H

Pencerahan : Memaafkan itu akar ketentraman jiwa, pohon pengokoh hati yang  membuahkan kebahagiaan.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu