Konsulkes Lazismu: Penggunaan Obat Dalam Pandemi COVID-19 | Berita Populer Lazismu

dr Tjatur Prijambodo, MARS


TANYA:
Assalamu'alaikum Wr Wb.
Pengasuh Konkes Lazismu Surabaya yang saya hormati, akhir-akhir ini banyak bersliweran berita tentang penggunaan obat terkait Pandemi Covid-19, yang simpang siur. Mohon dijelaskan tentang berbagai mitos tentang obat. Terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr Wb
vienti_novi@gmail.com

JAWAB:
Wa'alaikumussalam Wr Wb, Mbak Vienti Novi yang lagi bingung. Paling tidak, ada 11 mitos yang salah di masyarakat terkait penggunaan obat, yang semakin ramai di era Pandemi ini, yaitu:

1. Meningkatkan dosis obat menyebabkan penyakit lebih cepat sembuh. Salah besar jika ada orang yang beranggapan demikian, karena seorang pasien tidak boleh meningkatkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter yang bersangkutan. Tindakan ini justru dapat menimbulkan masalah kesehatan yang baru.

2. Menggunakan lebih banyak jenis obat lebih manjur. Penggunaan obat dengan jenis yang beragam akan percuma karena besar kemungkinan obat tersebut memiliki kandungan yang sama.

3. Obat paten atau mahal akan lebih manjur dari yang murah. Tidak benar jika ada orang yang beranggapan dengan membeli obat yang mahal, maka penyakitnya bisa lebih cepat sembuh. Masyarakat harus tahu bahwa obat paten dan generik memiliki khasiat yang sama.

4. Antibiotik adalah obat untuk segala macam penyakit. Ini adalah salah satu mitos yang selalu membuat saya mengelus dada. Antibiotik sering sekali dianggap sebagai dewa dari segala obat, apa pun penyakitnya, minum antibiotik pasti sembuh. Padahal, antibiotik hanya digunakan untuk penyakit karena infeksi bakteri saja. Penggunaan antibiotik yang tidak semestinya justru akan menimbulkan resistensi antibiotik, yaitu kondisi bakteri tidak lagi dapat dilawan dengan antibiotik.

5. Jika suatu obat terbukti manjur untuk orang lain, pasti akan manjur juga untuk saya. Tidak semua obat yang cocok bagi orang lain pasti cocok pula untuk kita. Semua tergantung dari sejauh mana tingkat keparahan penyakit.

6. Orang tipe badak perlu dosis besar. Apabila orang lain dosisnya cukup satu, maka orang tersebut tidak mempan dan harus makan dua atau tiga obat sekaligus.  Pernyataan itu mungkin sering kita dengar. Tidak semua obat memiliki tingkat yang seramah itu jika dikonsumsi tidak sesuai dosis. Bahkan ada obat yang apabila dikonsumsi berlebihan jutru akan menimbulkan efek samping berbahaya.

7. Suntik mempercepat sembuhnya sakit. Banyak orang beranggapan suntik itu lebih manjur. Tetapi pada orang yang mengalami alergi pemberian obat dengan cara disuntik jauh lebih berbahaya dari pada yang diminum. Jadi jangan mendesak dokter untuk memberi suntikan.

8. Penggunaan obat boleh langsung dihentikan jika sudah tidak merasa sakit. Hal ini benar untuk beberapa jenis obat tertentu saja. Misalnya obat untuk meredakan gejala nyeri, obat pereda flu dan batuk, memang dapat dihentikan penggunaannya jika gejala sudah tidak terasa lagi. Namun obat-obatan untuk penyakit yang bersifat kronis, seperti hipertensi, diabetes melitus, hipotiroid, hingga depresi, tidak boleh dihentikan tiba-tiba tanpa panduan dari dokter. Meskipun sudah tidak lagi merasakan gejala dari penyakit tersebut. Dalam beberapa kasus, penghentian tiba-tiba malah dapat menyebabkan relapse dan justru terjadi perburukan.

9. Obat tradisional atau herbal pasti aman. Salah kaprah ini lumrah sekali terjadi di masyarakat kita. Banyak obat yang berasal dari herbal atau bahan alami belum terstandardisasi dengan baik, sehingga kandungan yang ada di dalamnya tidak diketahui dengan pasti. Sebaiknya gunakan obat atau suplemen herbal yang sudah melalui uji preklinis dan klinis, sehingga keamanan dan khasiatnya dapat dipertanggungjawabkan.

10. Vitamin adalah kebutuhan esensial untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Di era Pandemi ini, banyak orang yang minum Multivitamin tanpa indikasi yang jelas dan dianggap menggantikan makanan. Seseorang tidak memerlukan asupan multivitamin. Karena sebanyak apa pun seseorang mengonsumsi vitamin, hal itu tidak akan mampu menggantikan posisi dari makanan.

11. Suplemen makanan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan. Banyak beredar iklan, suplemen tertentu mampu menyembuhkan Covid-19. Suplemen bentuknya memang seperti obat tetapi dia bukan obat. Produsen boleh mengklaim apapun tentang khasiat suplemen yang mereka buat tanpa harus membuktikan, asal tidak mengklaim menyembuhkan atau mencegah suatu penyakit.

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat. Aamiin. Wassalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu