Siroman Rohani: Dunia Tengah Menunggu Islam | Berita Populer Lazismu



DUNIA TENGAH MENUNGGU  ISLAM
Oleh: Abdul Hakim, MPdI

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ
عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
QS Albaqoroh 183.


Dunia tengah diguncang wabah Covid 19. Sejak awal berjangkitnya wabah ini diakhir tahun 2019, hingga kini  sudah lebih dari 200 negara terpapar virus sebesar nano ini. Inilah wabah yang mengundang kontroversi. Wabah “pembunuh” ini terus menjadi tranding topic. Sejumlah Negara harus memberlakukan lockdown. Setelah Wuhan Cina yang disebut negeri asal berjangkitnya penyakit misterius ini, sejumlah negara besar  susul-menyusul bertumbangan disasar tanpa ampun. Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, Iran, Israel, dan Amerika Serikat benar-benar bertekuk lutut, tanpa daya.

Ribuan korban tewas dimana-mana setiap hari. Di jalan, di pasar, di mall, di kereta, di kapal pesiar, tampak korban bertumbangan. Kepanikan dan ketakutan melanda kota-kota. Berbagai rumah sakit dan pusat layanan medis lainnya tidak mampu menampung korban. Sejumlah dokter dan tenaga medis, serta ribuan relawan bahkan menemui ajal, menjadi korban keganasan wabah tho’un yang menular dengan super cepat ini.

Yang lebih tragis dan mengenaskan adalah penanganan para korban. Di banyak negara seperti Cina, Italia,  Spanyol, dan beberapa negara lainnya. Para korban   langsung dikremasi,  atau dibakar di tungku raksasa, atau  dikubur dalam satu kuburan masal bersama sejumlah besar kantung-kantung mayat, tanpa ditandai identitas korban, serta hak keluarga untuk melakukan upacara pemakaman.

India, Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Arab Saudi juga dikabarkan kewalahan mengantisipasi perkembangan wabah pandemic ini. Apalagi Indonesia yang sejak awal dinilai meremehkan penularan wabah ini. Alih-alih segera mengantisipasi, pemerintah justru lebih sibuk dengan proyek kedatangan tenaga kerja asing dari Cina serta pemindahan ibukota baru ke Kalimantan. Yang lebih menyakitkan adalah, ketika terbukti wabah ini sudah nyaris merata menjalar ke berbagai kota, pemerintah justru melakukan langkah sembrono dengan membebaskan para koruptor serta puluhan ribu nara pidana, dengan alasan yang direkayasa.

Sementara itu, ribuan korban terpapar, dalam pengawasan, perawatan,  atau menemui ajal terus bertambah.  Dokter, perawat, relawan, pendeta, tanpa kecuali berjatuhan menjadi korban. Ratusan siswa seminari di Jakarta bahkan terbukti positif terpapar virus ini. Sejumlah Setelah Jakarta, menyusul Surabaya memberlakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Bahkan tidak tertutup kemungkinan pemberlakuan lockdown, jika ternyata wabah ini berkembang lebih signifikan dan tidak terkendali. Tentu dengan segala resiko yang harus ditanggung pemerintah atau masyarakat.

Menyusul perkembangan menjalarnya wabah Covid 19 ini, pemerintah sendiri harus meliburkan pusat pendidikan seperti sekolah dan kampus tanpa batas waktu sampai wabah ini  dinyatakan aman dan terkendali. Masyarakat wajib mengenakan masker, tidak berjabat tangan, jaga jarak, cuci tangan atau aturan pengaman lainnya. Pusat ibadah seperti masjid dan musholla, akhirnya ditetapkan sebagai tempat yang harus ditutup, meskipun terbukti belum ada korban terpapar dari masjid. Menjelang Romadhon 1441 ini, pemerintah dan sejumlah ormas Islam, menetapkan protap yang sama dengan harapan dapat memutus mata rantai berkembangnya Covid 19 ini.  Sholat jamaah lima waktu, sholat jumat dan taraweh cukup dilakukan di rumah. Termasuk larangan keras mudik atau pulang kampung.

Menyusul berlakunya lockdown di berbagai Negara, dua kota suci umat  Islam, Makkah dan Madinah mengalami dampak wabah ini. Setelah lockdown, Pemerintah Arab Saudi selain menetapkan tempat umum, dan masjid-masjid ditutup, berlaku pula larangan menunaikan ibadah umroh. Bahkan tidak tertutup kemungkinan ibadah haji akan mengalami penundaan.

Terlepas adanya isu rekayasa politik, perang dagang, atau perang biologi negara besar seperti Cina atau Amerika Serikat atas bencana global ini,  dunia terus berikhtiar menemukan penangkal wabah Covid 19 ini.

Umat Islam menyadari wabah Covid 19 ini bukan sekedar musibah besar. Selain harus diantisipasi secara medis,  ekonomis, dan politis, musibah ini adalah sarat hikmah dan pesan pencerahan.  Ya, agar umat Islam bersatu, bersinergi, dan konsisten menegakkan dakwah amar makruf nahi munkar di segala bidang. Musibah ini sekaligus menjadi bukti betapa dunia, termasuk Indonesia,  tengah menjadi korban ateisme, materialisme, liberalisme, sekulerisme, kapitalisme, dan komunisme. Dunia tengah menunggu Islam, penyelamat tatanan ekonomi, social, politik, pendidikan, hukum,  di bawah naungan  kepemimpinan Islam yang menjamin keadilan, kessejahteraan, keamanan,  keselamatan, serta kemuliaan manusia. Romadhon adalah salah satu pintu pencerahan mewujudkan amanat Islam sebagai Rahmat bagi semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu