Lentera Hati: Ramadhan dan Al-Qur'an | Berita Populer Lazismu


Ustadz M. Khoirul Anam, MPdI

Ramadhan & Al-Qur’an 
Oleh : M.Khoirul Anam

Ramadhan telah hadir ditengah-tengah kita, kepada orang-orang yang beriman Ia datang menyapa. saatnya kita semua panen pahala, panen Kasih sayang (Rahmah) dan Penen ampunan (Maghfiroh). Dibulan yang mulia ini orang-orang yang beriman berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) diantaranya bersedekah, mengirim ta’jil, menyantuni yatim piatu, mengirim hadiah, membaca al-qur’an, dan masih banyak lagi amalan-amalan lainnya.

Ketika sebelum ramadhan datang al-qur’an hampir tak terdengar, tetapi ketika sang penghulu bulan ini hadir, maka lantunan al-qur’an bersautan dimana-mana. disurau, musholah dan masjid juga tak ketinggalan dirumah-rumah orang-orang mukmin juga ramai membaca kitab yang mulia ini. Itulah al-Qur’an telah bergemah di bulan Ramadhan.

Antara al-qur’an dan ramadhan di ibaratkan sekeping dua mata uang yang tidak bisa di pisahkan dimana ada Ramadhan maka disitulah ada al-qur’an yang dilantunkan. Al-Qur’anul karim mencintai Ramadhan dan Ramadhan merindukan Al-Qur’an. Keduanya ibarat sahabat yang saling mengasihi. “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda”  (Al-Baqoroh : 185).

Keseluruhan Al-Qur’an diturunkan kelangit dunia dan lauhul mahfuzh dalam bulan Ramadhan, bulan ini telah mendapat kehormatan dengan turunnya Al-Qur’an, karena itu Rasulullah SAW sering mengkajinya dibulan Ramadhan bersama Malaikat Jibril. Sungguh orang yang puasa telah memadukan antara Ramadhan dengan Al-Qur’an, sehingga bulan ini terasa hidup bersama kitab yang mulia ini.

Kitapun yang membaca Al-Qur’an dibulan ramadhan sangat menikmati dan bersemangat sehingga kadang-kadang bisa mentarget 2-3 kali khatam Al-Qur’an, padahal 11 bulan sebelumnya yakni bulan Syawal sampai Sya'ban kita terkadang belum bisa sekalipun mengkhatamkan Al-Qur’an. Sungguh! Bulan Ramadhan mampu memberi spirit ruhani yang luar biasa. Bagi Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan ada kelezatan tersendiri, dan seakan mempunyai ilham-ilham khusus yang memberi suplemen bagi pembacanya.

Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan seakan mengembailkan nostalgia saat turunnya, saat-saat dikajinya dan masa-masa penuh perjuangan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan bagaikan pembasah embun, pemberi wewangian pada makhluk yang bernyawa. Karenanya siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kesejukan jiwa dan kegairahan dalam hidup. semoga ini juga yang kita rasakan.

Al-qur’an akan berdampak dalam jiwa dan sanubari kita manakala dibaca dengan tartil (pelan) dan penuh penjiwaan, sebaliknya bila Al-Qur’an dibaca dengan serampangan, cepat, tanpa penjiwaan karena mengejar Khatam, maka siapa saja yang mendengarnya  tak akan berdampak pada ketenangan jiwa, bahkan tak memperdulikan bacaan tersebut.

Membaca Al-qur’an dengan perenungan, pendalaman dan metadabburnya merupakan salah satu dari sekian banyak sebab kebahagiaan dan kelapangan hati. Allah mensifati kitabnya ini sebagai petunjuk, cahaya, dan penawar atas semua yang ada didalam dada. “hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman“ (Yunus : 57)

Orang yang membaca dengan perenungan terhadap al-qur’an, maka dadanya akan lapang, keresahan, kegelisahan akan berangsur-angsur hilang, karena Al-qur’an sendiri mengajak kepada kita untuk berkhusnudhon kepada Allah, mengharapkan kebaikan dan rahmatnya, juga menanti ampunan serta kasih sayangnya.

Mari kita bercermin kepada para sahabat Nabi SAW, mereka (para sahabat) membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat takjub, terkadang menangis ketika berkisah tentang neraka, merasa senang ketika ada kabar gembira, mengiyakan ketika ada perintah dan menahan diri ketika ada larangannya.

Kita memang belum bisa seperti para sahabat Nabi SAW, namun paling tidak ketika membaca Al-Qur’an kita membacanya dengan tartil (pelan) agar kita dan orang yang mendengarnya merasakan keagungan dan kesejukannya. Terlebih lagi kalau kita bisa membaca tartil dan mengartikannya. Insya Allah hal ini akan berdampak pada keimanan kita.

Rasulullah SAW dan para sahabat juga sangat fokus terhadap al-Qur’an bila ramadhan datang. Bahkan imam Malik RA, menganggap bahwa Ramadhan adalah khusus bulan al-Qur’an karenanya beliau tinggalkan mengajar, memberi fatwa untuk sementara waktu. Beliau fokus untuk mentadabbur dan mempelajari isi al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

Tidak kah kita ingin menghidupkan ramadhan dengan menghiasi hari demi hari dengan al-qur’an? Tak inginkah kita mengetahui keagungan al-qur’an lalu kita curahkan kebahagiaan dalam kehidupan kita dengannya. Semoga kita bisa  menghiasi kehidupan ini bersama al-Qur’an yang mulia ini. “ Wallahu ‘alamu bish-showab “

Pencerahan : Al-Qur’an yang mulia ini adalah kehidupan, menyelamatkan, membahagiakan, mendatangkan pahala, ia adalah ilmu, pendidikan,  ajaran-ajaran robbani, undang-undang Allah dan hikmah yang abadi. (Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu