Konsul Psikologi: Efek psikologis setelah kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19 | Berita Populer Lazismu


Mingat, S.Psi


Efek psikologis setelah kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19

LAZISMUSBY.COM-Jutaan orang di seluruh dunia kehilangan pekerjaan karena pandemi Covid-19. Bagaimana menguasai emosi ketika ini terjadi pada Anda?

Beberapa pekan lalu, jumlah klaim asuransi untuk pengangguran di Amerika Serikat melonjak hingga tiga juta permohonan, ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sebagai perbandingan, angka ini melampaui Resesi Besar pada Maret 2009 yakni 665.000 permohonan. Sebelumnya, rekor tertinggi klaim pengangguran adalah 695.000 pada 1982, ketika Bank Sentral AS mencoba menjinakkan inflasi melalui kebijakan moneter.

Angka 3.001.000 — dari sepekan sebelumnya 282.000 — hanya puncak gunung es karena para pekerja di sektor informal, wirausaha, dan pekerja lepas tidak bisa mengajukan klaim pengangguran di banyak negara bagian.

Di seluruh negara, perekonomian melemah karena jutaan orang mendadak menjadi pengangguran akibat pandemi Covid-19. "Peristiwa ini akan menjadi pandemi pengangguran global," kata David Blustein, profesor psikologi konseling di Boston College. "Saya menyebutnya krisis di dalam krisis."

Di balik angka yang tinggi ini, juga tersimpan beban psikologis tersendiri. Banyak yang tiba-tiba menemukan diri mereka tak punya pekerjaan, entah karena diminta mengambil cuti tanpa tanggungan atau langsung dipecat.
Saat Anda kehilangan sumber pendapatan, bagaimana Anda menghadapi emosi?

A. Ini sulit

James Bell, 39 tahun, adalah satu dari banyak warga Amerika yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan dana bantuan untuk pengangguran setelah bar tempatnya bekerja harus tutup. Sebelumnya, Bell memiliki pemasukan berupa gaji mingguan dan tip, cukup untuk menghidupi lima anggota keluarganya.

Bell dan istrinya memiliki tiga anak, masing-masing berusia dua, tiga, dan tujuh tahun. Meski sudah menduga bahwa keuntungan bar menurun drastis, ia tetap merasa terkejut saat akhirnya dipecat. "Saya tidak merasa tersinggung, namun rasanya berat," ujarnya. Selain menggantungkan dana bantuan pengangguran, Bell juga telah mencari tahu beberapa yayasan amal yang menawarkan bantuan finansial kepada bartender, tapi ia khawatir jumlah pendaftar lain yang pasti membludak.

Meski Bell kaget karena kehilangan pekerjaan begitu tiba-tiba, ia juga merasa lega, karena tak lagi terekspos dengan risiko terinfeksi virus setiap hari. "Sejujurnya, sepekan sebelum dipecat, saya sangat gelisah dan membersihkan gagang pintu bar dengan desinfektan sesering mungkin," katanya.

Dia juga mengatakan situasi ini membuat emosinya naik turun, dan bahwa ia merasa tertekan karena menjadi pengangguran dan merasakan realitas baru dalam pandemi ini. "Sepertinya kegelisahan saya bersumber dari banyaknya hal yang kita tidak tahu. Sampai kapan ini akan berlangsung? Semakin lama keadaan berjalan seperti ini, makan semakin dalam permasalahan ekonomi kami nantinya."

B. Memproses kehilangan

Kehilangan pekerjaan bisa melelahkan secara emosional, namun mengalaminya di saat lingkungan sekitar sedang dalam keadaan penuh ketidakpastian dapat menambah lebih banyak tekanan. "Kita harus menghadapi stres yang semakin akut karena situasi tak menentu ini," ujar Adam Benson, psikolog yang berpraktik di New York selama 20 tahun. "Beberapa orang akan mencoba mengontrol semuanya, namun kita juga harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol dalam situasi sekarang ini."

Psikolog mengatakan, kehilangan pekerjaan kerap kali menghasilkan duka yang sama seperti saat kehilangan orang terkasih. Tahapan emosional dalam berduka pun sama, diawali dengan kekagetan dan penyangkalan, lalu rasa marah dan menawar, kemudian diakhiri dengan penerimaan dan harapan. "Yang bisa saya sampaikan kepada orang-orang adalah menekankan bahwa mereka sedang berada dalam tahap kehilangan, dan ketika mereka menyadari ini, mereka bisa lebih sabar terhadap diri sendiri."

Beberapa orang akan menolak untuk mengakui bahwa mereka kehilangan, kata Benson. Mereka mungkin berkata, 'Saya tidak seharusnya merasa seperti ini karena semua orang juga kehilangan pekerjaan.' "Namun ketika mereka menyadari bahwa mereka merasa kehilangan, entah itu kehilangan ekspektasi, kesempatan, harapan, atau hubungan, maka mereka akan mengizinkan diri mereka merasakan duka," ujarnya.

Yang juga penting, mengakui bahwa emosi yang berkaitan dengan kehilangan pekerjaan membutuhkan waktu. Sebuah penelitian mengumpulkan data wawancara dari 100 responden tentang perasaan mereka 12 pekan setelah kehilangan pekerjaan, lalu proses ini diulang setahun kemudian. "Pada mulanya, mereka merasa sangat marah," kata kepala peneliti Sarah Damaske, profesor rekanan untuk studi sosiologi, buruh, dan pekerja di Universitas Negeri Pennsylvania. Namun, ia menekankan, penelitian ini dilakukan jauh sebelum krisis akibat pandemi terjadi.

Apakah dalam situasi sekarang ini, rasa marah akibat kehilangan pekerjaan ini tetap ada? Kita tidak tahu pasti, ujar Damaske, namun berdasarkan penelitiannya kemungkinan besar perasaan ini masih ada. "Orang yang dipecat biasanya merasa marah dan kesal kepada kantor mereka," ucapnya.

"Rasa marah ini bisa jadi berasal dari perasaan bahwa Anda ternyata bisa digantikan dengan mudah, atau bahwa Anda ternyata bukanlah bagian dari kelompok yang selama ini Anda anggap tim."

Lalu, apa lagi? Pandemi ini bisa menjadi kambing hitam psikologis, kata Cary Cooper, profesor Psikologi Organisasional di University of Manchester. "Secara psikologis, orang akan menyalahkan pandemi ketimbang menyalahkan diri sendiri," ucapnya.

"Namun apa yang bisa terjadi di masa depan, perkantoran akan menyadari bahwa mereka ternyata tidak butuh banyak pegawai. Karena, teknologi bisa menggantikan manusia. Ini adalah konsekuensi dan ketakutan dalam jangka panjang."

C. Tetap seimbang

Penelitian menunjukkan, orang-orang yang terkena dampak finansial, kehilangan rumah dan pekerjaan, pada saat masa Depresi Besar lebih rentan memiliki masalah kesehatan mental. Bagaimana dengan sekarang? Benson berkata, secara umum setelah kehilangan, seseorang harus bisa mengenali elemen situasi yang bisa atau tidak bisa mereka kontrol. Lalu, fokus pada hal-hal yang bisa mereka kontrol.

Mungkin yang berbeda dari situasi saat ini adalah adanya kepercayaan bahwa situasi ini hanyalah sementara dan ketika kondisi membaik, semua akan kembali normal.
Setidaknya untuk James Bell, ini adalah harapannya. "Saya rasa saat semuanya selesai, orang-orang akan kembali mendatangi restoran dan bar, dan mereka akan memberi uang tip besar," ujarnya.

Lebih jauh, karena pengalaman ini kolektif, ada perasaan bahwa kita menjalani keadaan berat ini bersama-sama. Benson mengatakan, di Manhattan, para pemilik restoran sangat sensitif dan memberikan santunan atau membuat kampanye untuk membantu keluarga yang terdampak.
Meski mungkin tidak menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial dalam lingkup besar, gerakan ini bisa membantu orang-orang yang baru di-PHK supaya tidak menyalahkan diri sendiri.

D. Dalam waktu lama

Untuk Donna Bertaccini, satu-satunya jalan untuk maju adalah menerima kenyataan baru ini, tak peduli seberapa menakutkannya itu. Depresi Besar membuat perusahaannya rugi besar.
Bertaccini memiliki Molesworth Enterprises, perusahaan film dan televisi independen yang dijalankannya bersama sang suami di Connecticut selama 35 tahun.

Semua kontrak kerjanya berantakan pada waktu itu, dan butuh waktu lama untuk memulihkannya. "Kami baru saja menarik napas lega pada Desember lalu," ujarnya. "Tapi virus corona mengubah segalanya."

Saat ini, semua proyek ditunda. Meski begitu Bertaccini tetap optimistis bahwa situasi ini akan membaik dan semua pekerjaan yang hilang akan kembali lagi. "Pada level tertentu, saya merasa seluruh manusia berada di kapal yang sama," katanya.

"Kehidupan memang berubah," lanjut dia. "Kita mungkin akan berada di sini dalam waktu lama, namun saya berharap kita semua bisa menjaga kehidupan yang seimbang." (Mingat, S.Psi/Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu