Jum'ah Cerah: Adu Kekuatan Angin Lawan Matahari | Berita Populer Lazismu

Foto Album Keluarga 



ANGIN DAN MATAHARI
Oleh: Nur Cholis Huda

Angin datang ke matahari dengan membanggakan kekuatannya. "Aku punya bukti tak terbantahkan tentang keperkasaanku", kata angin. "Apa buktinya?" tanya matahari.

"Ada ribuan Pohon tumbang ketika aku lewat, ratusan rumah roboh dan Kapal di laut tenggelam karena angin topanku itu semua membuktikan betapa dahsyat kekuatanku", kata angin.

"Sebenarnya Kamu mempesona ketika datang dengan kelembutan", kata matahari. "manusia suka angin yang semilir dan sepoi-sepoi. Perahu nelayan berlayar tenang ketika kau dorong layarnya dengan terukur. Putik dan benang sari dari tumbuhan bertemu lewat Jasamu sehingga melahirkan bunga indah dan buah segar. Sungguh kamu dirindukan ketika datang dengan kelembutan", kata matahari.

"kita sedang bicara tentang kekuatan, bukan kelembutan", potong angin. "kamu memuji-muji kelembutan mencerminkan pribadimu yang lemah. Itu karena kamu memang tidak pernah melahirkan sesuatu yang dahsyat", kata angin Ketus.

"jangan takabur. Siapakah yang lebih kuat di antara kita berdua? Hidup ini tidak hanya membutuhkan kekuatan tetapi juga kecerdasan", kata matahari.

"Jadi kau menantangku adu kekuatan?" aku tidak menantang. Tapi kita memang belum pernah bertanding bukan? belum diketahui siapa diantara kita yang lebih kuat". "Baik, Ayo bertanding!, "kata angin Tak sabar. "terserah kepadamu bentuk pertandingannya. Pilihlah supaya kau tidak berdalih kalau nanti kalah. Kau akan segera tahu siapa aku dan betapa besar kekuatanku", kata angin.

Pada saat itu seorang laki-laki yang mengenakan jaket sedang berjalan sendirian. Matahari lalu mendapat inspirasi setelah melihat laki-laki itu. "Hai angin, kau lihat laki-laki berjalan itu? Kalau kau memang kuat, Coba lepaskan jaket yang dia pakai dari tubuhnya. Aku ragu kau mampu melakukannya!"

Angin agak tersinggung kekuatannya diragukan. Maka segera dia hembus tubuh laki-laki itu dengan serbuan angin yang mendadak. Laki-laki itu terkejut dan gelagapan. Kancing jaket bagian atas terbuka satu. Angin menyerbu lagi dan laki-laki itu terus berusaha mempertahankan jaket di tubuhnya. Semakin keras angin menerpa semakin kuat laki-laki itu memegangi jaketnya. Ketika angin semakin keras, dia berlindung di bawah pohon dengan merangkul erat pohon itu. Akhirnya angin gagal melepaskan jaket dari tubuh laki-laki itu.

Dengan seportif angin mengakui kegagalannya. "Kini giliranku", kata matahari. Angin menghentikan aksinya. Laki-laki itu merasakan angin ribut telah reda, maka dia melanjutkan perjalanan. Sementara itu Matahari mulai memancarkan sinarnya yang panas menyengat. Keringat mulai mengucur di tubuh laki-laki itu. Dia lalu membuka kancing jaketnya. Matahari terus memancarkan sinarnya yang makin panas. Keringat makin membasahi tubuh dan pakaiannya. Dengan jaket di badan hawa panas itu terasa menjadi semakin panas. Dengan terik matahari yang panas, laki-laki itu tak kuat memakai jaket. Maka dengan kemauannya sendiri akhirnya laki-laki itu melepas jaketnya. Matahari tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menanggalkan jaket dari tubuh laki-laki itu tanpa kekerasan.

Anda tentu sudah bisa memetik pelajaran dari dongeng ini.

 Jalan matahari adalah jalan dakwah, jalan yang tidak menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Tetapi lebih penting menciptakan kondisi yang memungkinkan orang berubah dengan sukarela. Jalan kekerasan sering tidak menghasilkan apa-apa kecuali lahirnya kekerasan baru atau kekerasan tandingan. Angin gagal meskipun menggunakan kekerasan. Tetapi matahari berhasil. Menciptakan suasana adalah bagian sangat penting dalam dakwah.

Tetapi sekarang banyak orang memilih Jalan kekerasan karena dianggap itu jalan terpendek mencapai tujuan. Orang hanya berpikir tentang hasil dan tidak peduli tentang prosesnya. Yang penting cepat tercapai. Semua serba instan.

Muncul suasana keras di mana-mana. Di jalan, di terminal, tempat kerja, di perusahaan, bahkan juga di lembaga pendidikan. Mahasiswa bukan cuma demonstrasi tetapi saling berkelahi. Pimpinan perguruan dan yayasan tidak hanya saling berbeda pendapat tetapi saling menjaga pintu kantor.

Terasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan keseharian kita. Mungkin yang hilang itu bernama kesabaran, kearifan, lapang dada atau entah apalagi. Ucapan lembut berganti kasar. Pertanyaan berganti caci maki. Telunjuk saling menuding dan tangan saling mengepal. Kadang dilakukan atas nama agama.

Anda pernah menonton film Sang Pencerah, perjuangan KHA Dahlan, pendiri Muhammadiyah? Ketika salah seorang muridnya bertanya, Yang disebut agama itu apa Kiai? Dahlan lalu mengambil biola. Gesekan biola ditangannya bersuara merdu. "Apa yang kalian rasakan setelah mendengar suara biola tadi?

"Hati tentram", kata seorang murid. "Damai! "Kata yang lain." Indah dan rasa gelisah menjadi hilang", kata murid yang lain lagi. Dahlan lalu mengatakan: "demikianlah agama!"

Dia mengajarkan bahwa agama di tangan orang yang Paham agamanya ibarat suara biola di tangan Sang Maestro. Merdu menyentuh kalbu. Jika ada kekerasan dalam agama pasti oleh orang yang tak paham agamanya seperti biola di tangan yang tak becus pasti menyakitkan telinga.

Jadi kalau ada suara sumbang atau menyakitkan telinga dari sebuah biola, maka Jangan pernah menyalahkan biolanya atau menganggap biola itu jelek. Tidak! Suara yang menyakitkan telinga itu karena penggeseknya Masih belajar atau belum paham tentang biola. Demikian juga tentang agama. Jika ada orang yang melakukan kekerasan atas nama agama, Pasti orang itu masih belajar dan belum paham tentang agamanya.

Sayangnya banyak orang yang baru belajar musik sudah merasa menjadi Maestro, bahkan berlagak seperti seniman besar. Menyalahkan dan meremehkan permainan musik orang lain. Dia tidak sadar bahwa musik yang di alunkan menyakitkan banyak orang.

Dakwah adalah membangun jalan agar orang bisa melewati jalan itu dengan perasaan nyaman dan gembira. Tidak ada orang yang bisa mengubah hati orang lain kecuali Orang itu mengubah dirinya sendiri. Allah menunjukkan jalan, tetapi tidak memaksa. Orang disuruh memilih sendiri tetapi harus siap menanggung segala risiko. Tuhan tidak memaksa. Sayang, kita justru sering memaksa. Kita bertindak melebihi Tuhan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu