Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu


KH Imanan SAg  


Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman

Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Warahmatullaahu Wabarakaatuhu.

Ustadz mau bertanya, hadits “Shalat itu mi’rajnya seorang mu’min, hadits ini riwayat siapa?  (Dari Bapak Moeryanto/ lewat Whatshaff (WA)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Warahmatullohi Wabarakaatuh.

Baik terimakasih atas pertanyaan yang bapak ajukan. Hadits yang bapak tanyakan Lafadhnya berbunyi :
الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ
“ Shalat itu adalah mikraj bagi orang – orang yang beriman.”

Hadits di atas kami temukan dalam beberapa kitab tafsir seperti Al-Alusi dalam kitab  Ruhul Ma’ani (9/271), Tafsir Naisabur (3/192) dan Ruhul Bayan (2/213). Kesemuanya disebutkan tanpa sanad dan tanpa rawi.

Demikian pula sebagian ulama seperti al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menyebutkan kalimat tersebut dalam rangka menjelaskan kedudukan ibadah Shalat yang begitu tinggi di dalam agama Islam, tapi tanpa sanad juga.

Dalam kitab Mirqatu al-Mafatih beberapa kali disebut bahwa redaksi kalimat tersebut dengan kata qiila (dikatakan); warada (tersebut), dan sebagainya. Ini menjadi isyarat tegas bahwa kalimat tersebut bukan hadits Nabi Shallallohu ‘alahi wasallam .

Jadi yang nampak, bahwa perkataan diatas tidak sah dari Nabi shalallohu’alaihi wassalam, bahkan tidak diketahui pula secara pasti siapa pengucapnya. Andaikata kalimat tersebut dikatakan hadits maka disebut :   لا اصل له   Laa Ashla Lahu (hadits yang tidak ada asal usulnya). Sehingga jangan disandarkan kepada Nabi shalallohu’alaihi wassalam, sebab bisa  menjadi kedustaan atas nama beliau shalallohu’alaihi wassalam yang ancamannya adalah tempat di neraka.

Dalam hadits , Nabi Shalallohu ‘alaihi wa sallambersabda:
لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ
Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Al-Bukhâri, dan Muslim,]

Dalam hadits lain, Nabi Shallallohu’ alaihi wa sallama menegaskan
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Barangsiapa menceritakan sebuah hadits dariku, dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah]

Maka kita sebagai orang Islam, lebih-lebih  bagi penuntut ilmu, hendaknya berhati-hati dalam membaca atau memposting riwayat-riwayat  yang masih meragukan keshahihannya. Apalagi di zaman sekarang terlalu banyak sms, WA  atau bbm atau artikel yang berisi  fadhoilul amal, khurofat, kedustaan dan kebatilan  yang disandarkan kepada Rasululloh Shallallohu’ alaihi wa sallama, tapi  setelah dicek  dan diteliti ternyata bukan hadits.

Demikian jawaban dari kami, Semoga Alloh memberikan taufiq dan hidayah  serta pencerahan kepada kita dan menjauhkan kita semua dari segala keburukan dan penyimpangan dalam beragama.

Wallohu a’lam bish-shawab.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu