Siroman Rohani: Mukmin itu Pemburu Surga | Berita Populer Lazismu


MUKMIN ITU PEMBURU SURGA 
Drs. Abdul Hakim, M.Pd.I

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
 تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ 

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” Albaqoroh 24

Bagi orang beriman,  tinggal di surga  itu tentu menjadi harapan atau cita-cita utama dan tertinggi. Surga itu memang disediakan untuk orang beriman dan beramal salih. Gambaran surga serta kenyamanan tinggal di dalamnya, seperti  dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran, serta hadits-hadits sahih, sungguh sangat memikat atau mempesona. Pasti  membuat orang beriman diliput kerinduan mendalam. Setiap mukmin pasti penuh sukacita ingin tinggal di dalamnya.

Surga itu  istananya para nabi,  rosul, siddiqin, syuhada, dan sholihin. Di tempat mulia itu, semua kenikmatan kasat mata. Beragam  jenis bunga dan buah tersedia. Kurma, anggur, pisang, delima, buah naga, manggis, apel, durian, cempedak, semangka, melon, dan lainnya.  Semua jenis minuman  ada. Susu, madu, jahe, anggur, beras kencur, air dingin, segar, atau hangat tersedia melimpah. Tak pernah kekurangan.

Bidadara-bidadari syurga siap melayani semua penghuninya. Semua jenis perhiasan seperti emas,  intan, berlian, permata, mutu manikam berserakan di dalamnya.  Tidak ada perkataan buruk atau hoax. Ucapan para penghuni surga itu santun  dan begitu ramahnya, diseling senyum ceria dan bahagia.

Demi surga impian itulah, setiap mukmin harus membuat agenda hidup terencana, terukur, komprehensif dan  prospektif. Mereka harus sadar, surga itu harus dibayar dengan ilmu, iman dan amal salih  sebagai deposito atau investasi utamanya. Ketiganya harus bernilai ibadah.

Ya, agenda utama meraih mahligai surga adalah ibadah. Itu pesan utama Surat Adz-Dzariyat 56. Alloh tidak menciptakan manusia, kecuali agar manusia mengabdi, menghamba, atau tunduk dan taat penuh hanya kepada-Nya.

“Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan-mu, yang telah menciptakanmu dan menciptakan generasi sebelummu qgar klian meraih ketakwan.” Albaqoroh 21.

Jadi, hidup adalah ladang ibadah!  Ini bukan sekedar statemen. Ini harus menjadi  ikrar mukmin. Maka, setidaknya seorang mukmin akan mantap menyatakan ikrar ibadah, setidaknya 17 kali dalam sehari semalam,  melalui kalimat munajat utama. “Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Alfatihah 5.

Karena ibadah itu luas, orang mukmin tidak hanya beribadah di atas sajadah panjang (sholat), di perut lapar (puasa), berbagi dengan fakir-miskin atau yatim, atau di lintasan thowaf, sa’i, serta wukuf di Arofah. Orang mukmin menyadari ibadah itu juga di lintasan kepemimpinan local, nasional, dan global. Dalam praktik ekonomi, social,  politik, pendidikan, hukum, budaya, dan rumah tangga.itu adalah ladang jihad mukmin sepenjang hayat.

Energy ibadah mukmin itu memenuhi rongga hati, akal, nafsu, dan raga.  Aktivitas apa pun selalu bernilai dan bermuatan spiritual hablun minalloh dan sosial hablun minannas. Bukan kosong, gersang  atau kering kerontang dari ruh ibadah. Buah manis ibadah ritualnya menyertai komitmen hablun minannas, hubungan horizontal yang memberi manfaat kemanusiaan sebesar-besarnya. Cahaya ibadah ritual itu harus nampak pada sikap dan perilaku social. Sikap dan perilaku yang benar, ikhllas, jujur, tanggung jawab, tegas, santun, peduli, dan toleran harus menjadi karakter kemanusiaan mukmin. 

Setiap mukmin memang harus insaf, kenyamanan hidup di dunia itu pasti tidak ada apa-apanya di banding surga. Dunia ini memang nikmat kecil yang menjadi cita-cita hidup  utama orang kafir yang  tidak yakin akhirat (surga-neraka) itu ada. Karena itu, banyak orang tertipu  untuk mendapatkan surga dunia semata. Bagi  mereka, surga akhirat itu wilayah mimpi, fatamorgana, halusinasi, fantasi, dan imajinasi orang-orang yang kalah dalam pergulatan hidup. Itu sebenarnya keyakinan Nietsze dan Hegel, tokoh ateisme, atau Karl Marx, pencetus komunisme. Ternyata, banyak juga tokoh partai, ormas, dan pejabat negeri ini yang menjadi penganut fanatic ateis dan komunis itu.

Maka, mereka sering melecehkan Islam. Melecehkan nabi, ulma, kitab suci, surga dan neraka. Menurut mereka hidup ya hanya di dunia. Demi meraup nikmat hidup di dunia, orang-orang kafir, musyrik, dan munafik itu memburunya dengan menghalalkan segala cara. Bahkan dengan sikap arogan,  sombong, dengki, rakus, bakhil, dusta, fitnah, dan berbagai tipu daya. Mereka pekak, tuli, dan bisu dengan kebenaran wahyu.

Bagi mereka, hidup-mati adalah perjuangan meraup dunia dan memuaskan nafsu. Karena itu Alquran menyebut mereka seperti anjing, “Mereka pemburu dunia dan pemuas nafsu. Perumpamaan mereka seperti anjing.” Al-A’rof 176.

Mereka hanya menikmati dunia, sebab begitulah memang visi dan misi, serta perjuangan hidupnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu