H. Soeharto: Musibah itu Pintu Hidayah | Berita Populer Lazismu

Bapak H Soeharto (Lazismu)


MUSIBAH  ITU PINTU HIDAYAH

Musibah itu sunnatulloh. Pasti terjadi.  “Tiada satu musibah yang terjadi di bumi, atau menimpa dirimu, melainkan telah tertulis dalam Kitab, sebelum Kami mewujudkannya,” QS Alhadid 22. Tidak satu pun manusia yang bisa menghindari musibah. Setiap orang,  karena itu,  pasti pernah mengalami. Sekali, dua kali, atau bahkan berulang kali. Lapar, kekurangan buah, kecelakaan, peperangan, sakit berkepanjangan, cacat permanen, bahkan kematian. Tua-muda, laki-laki atau perempuan, rakyat atau pejabat, kaya-miskin pernah dirundung musibah. Musibah kecil, sedang atau besar, bahkan dahsyat. Sesungguhnya, bagi seorang mukmin, musibah itu adalah bagian “nikmat hidup” yang harus disikapi dengan sabar, sekaligus syukur, dengan ucapan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun !”

Adalah Pak H. Soeharto, Veteran jurnalis Surabaya Post yang lahir di Surabaya 19 Maret 1943 itu pernah mengalami musibah dahsyat yang sungguh tidak akan hilang dari memorinya sepanjang hayat.  Tragedi jatuhnya pesawat jamaah haji Indonesia 15 Nopember 1978, pk 02.30 dini hari di Colombo, Srilanka  itu, menjadi titik balik kehidupan spiritualnya. Betapa tidak, tragedi mencekam itu telah merenggut 348 jamaah haji Indonesia asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Yang sungguh “ajaib”, beliau adalah satu di antara beberapa korban “selamat.”

Perjalanan menunaikan ibadah haji pertama kali itu diakui beliau sebagai pengalaman unik, special, dan sarat dengan nuansa spiritual, bahkan diluar jangkauan nalar. Tragedi musibah haji di Colombo itu, sebenarnya kecelakaan  kedua di tempat yang sama, setelah sebelumnya di tahun 1974 terjadi kecelakaan serupa dan merenggut nyawa ratusan jamaah haji Indonesia. Bagi Pak Soeharto, perjalanan haji tahun 1978 itu sebenarnya perjalanan tugas jurnalistik. Sebagai wartawan Surabaya Post kala itu, pria yang sudah keliling puluhan kota besar di lima benua  itu, harus melaksanakan tugas jurnalistik khusus, berupa liputan haji langsung di tanah suci Makkah.

Tentu itu kesempatan baru baginya, sekaligus “kesempatan” menunaikan ibadah puncak rukun Islam kelima. Meskipun, sangat disadari,  “buta” tuntunan manasik haji. Bahkan dengan polos disampaikan selama ini belum menunaikan ibadah rukun Islam apa pun, selain sholat Idul Fitri. Maka ibadah “haji” tahun 1978 itu adalah sekaligus pertama kalinya beliau menunaikan sholat di kota suci itu meskipun dengan cara ‘rubuh gedang”, sebisanya meniru jamaah yang lain, karena memang  belum tahu syarat dan tata caranya.

Alloh sungguh Maha Besar. Musibah Haji Indonesia di Colombo itu bukan sekedar menjadi berita besar yang memenuhi jagat media, tetapi bagi Pak H. Soeharto mengandung  banyak pesan dan hikmah spiritual. Selain sebagai teguran, karena selama ini hanya menjadi sekedar muslim KTP,  disadari sepenuhnya musibah itu ternyata bagian dari rentetan berkah dan nikmat yang dirasakan kemudian. Sejak peristiwa tragis itu,  perjalanan spiritual Bapak H. Soeharto berubah total. Pelan dan pasti, beliau mulai mempelajari Islam. Berbagai kajian Islam di banyak masjid selalu didatanginya, meskipun dengan jarak yang cukup jauh. Dengan mendatangi masjid-masjid, beliau bisa menunaikan  sholat berjamaah lima waktu. Masjid Alfalah Darmo, Masjid Mujahidin Perak, Masjid Ulil Albab Uinsa, Masjid Manarul Ilmi ITS, Masjid Chengho adalah sejumlah masjid yang selalu rutin didatangi untuk bisa menunaikan sholat berjamaah dan mendengarkan kajian Islam.

Selain ibadah ritual, berbagai kegiatan social pun dilakukan. Menjadi orang tua asuh, menyantuni fakir-miskin dan yatim-piatu, membantu pembangunan musholla atau masjid.  Di sisa usianya, Pak H. Soeharto berharap dapat terus meningkatkan kualitas ibadah, baik ibadah mahdhoh, maupun ibadah social sebagai wujud menunaikan kewajiban hablun minalloh dan hablun minannas.

Musibah Colombo itu memang membuka tabir kesadaran religius bagi pria yang setelah 25 tahun menuntaskan kiprahnya di dunia “kuli tinta”, dan sejak tahun 1995 beralih profesi  bergabung di Perusahaan Bisnis Grup Maspion, dengan beberapa jabatan, di antaranya menjadi salah satu Asisten Direksi. Beberapa tahun terakhir, Pak H. Soeharto mengajukan purnakerja dari Maspion, dengan harapan lebih bisa focus menunaikan ibadah ritual dan ibadah social, serta “nyantri” untuk bisa terus meningkatkan pengetahuan Islam, serta kemampuan di bidang tartil Alquran.

“Saya sungguh merasakan, betapa Alloh telah memanjakan hidup saya dengan berbagai nikmat. Terlebih sejak musibah haji di Colombo itu. Saya seperti dilahirkan kembali. Itu rahmat, taufiq, dan hidayah yang harus selalu saya syukuri. Saya ingin menyukuri nikmat itu dengan memperbaiki ilmu, iman, dan amal sesuai kemampuan, sampai Alloh memanggil saya kapan pun. Wallohu a’lam,” demikian pengalaman ‘istimewa” yang dituturkan kepada Lazismu yang secara rutin mengantarkan majalah dan bukti donasi tetap sejak lima bulan lalu.

Kepada Lazismu, Pak H. Soeharto menyerahkan “Sujud Syukur Seorang Jurnalis” dan “Menunggu Nikmat Ketiga”, dua buku yang merekam musibah haji di Colombo yang sarat dengan muatan spiritual, serta pengalaman berkiprah di bidang jurnalistik, dan mengakhiri karir  di Perusahaan Besar Group Maspion.
“Saya senang menjadi donatur Lazismu. Semoga Lazismu terus jadi besar, profesional, solid, dan amanah,” pesannya.

Sejak musibah  Colombo itu, yang telah menunaikan haji dan umroh bebarapa  telah membuka tabir kesadaran relegius mantan wartawan yang  hari ini sangat merasakan nikmat Alloh. (Abdul Hakim)

Surabaya, 20 Maret 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu