Dampak COVID-19 Terhadap Psikologi Masyarakat | Berita Populer Lazismu


Mingat, S.Psi (Album keluarga)

LAZISMUSBY.COM- Saat ini dunia dilanda sebuah virus atau wabah penyakit dari menyebarnya virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda dunia sekarang ini, dikhawatirkan berdampak psikologis bagi masyarakat luas. Pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah penderita Covid-19, dapat berdampak serius berupa timbulnya perasaan tertekan, stres dan cemas di kalangan masyarakat.

Demikian di sampaikan sekretaris Ikatan Karyawan Kesehatan (IKKM) Komisariat RS PKU Muhammadiyah Surabaya Mingat, S.Psi saat ditemui di ruang kerja LT 3 RS PKU Muhammadiyah Surabaya, Senin (23/3/2020).

Dia menanggapi perkembangan penyebaran Covid 19 yang berasal dari Wuhan, Cina, yang cenderung meluas akhir-akhir ini. "Di masyarakat luas dapat timbul perasaan tertekan, stres dan cemas dengan pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah penderita Covid-19.

Pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat, dapat memicu stres yang mempengaruhi hormon stres. Sehingga itu menyebabkan sistem imun menurun dan rentan tertular Covid-19," katanya.

Tenaga SDI di Rumah Sakit RS PKU Muhammadiyah Surabaya tersebut, mengingatkan, virus Corona atau Covid-19 yang terus merebak termasuk di Indonesia, tidak hanya menimbulkan gejala penyakit fisik saja. Tetapi, juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya, baik pada penderita maupun terhadap masyarakat luas.

Psikolog itu mengatakan, bagi penderita, dampak psikologisnya bisa berupa perasaan tertekan, stres, cemas saat didiagnosis positif Covid-19. Penderita bisa merasa cemas atau khawatir secara berlebihan, ketika privasinya atau identitasnya bocor kepada publik sehingga berdampak dikucilkan dari lingkungan sekitarnya.

"Dalam kondisi ini, reaksi dari penderita bisa berupa sikap tidak jujur dengan riwayat penyakit. Dia melakukan perjalanan ke mana sebelumnya dan apakah pernah kontak dengan penderita Covid-19, tidak akan disampaikan kepada tenaga medis. Selain itu, reaksinya juga bisa berupa penderita merasa cemas atau khawatir tentang hasil yang lambat setelah perawatan medis," jelasnya.

Mingat mengungkapkan, reaksi masyarakat penyebaran Covid-19 juga dapat berupa proteksi secara berlebihan terhadap diri sendiri maupun keluarganya. Dia menyebut contoh, di antaranya dalam mencuci tangan berulang kali, membersihkan rumah dan lingkungan secara terus-menerus dan sebagainya.

Lebih lanjut ia menambahkan, kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala obsesif compulsif, yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderita merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, individu tersebut akan terus diliputi kecemasan atau ketakutan.

Dia menandaskan, seharusnya selama 14 hari masa KLB masyarakat beraktivitas belajar, bekerja dan beribadah di rumah tetapi mereka malah berlibur ke tempat wisata.
"Masyarakat inilah yang perlu diedukasi mengenai pentingnya mematuhi kebijakan pemerintah dan dampak dari sikapnya tersebut bagi keluarganya dan masyarakat lain," tuturnya.

Dalam mengantisipasi dampak psikologis terhadap Covid-19, Mingat menyarankan perlunya strategi coping adaptif, yaitu cara mengatasi masalah yang adaptif baik penderita maupun masyarakat luas. Perasaan khawatir, tertekan dan cemas, katanya, kalau diolah secara tepat bisa mengarahkan individu kepada reaksi melindungi diri dengan tepat dan meningkatkan religiusitas individu.

"Sebaliknya, apabila strateginya adalah coping maladaptif maka tidak menutup kemungkinan individu dapat mengalami distres, cemas, gejala obsesif kompulsif atau permasalahan psikologis lainnya," pungkasnya. (Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu