Tanya Jawab Agama: Berdo’a Sesudah Shalat Fardhu | Berita Populer Lazismu


Ustadz H. Imanan, SAg

Berdo’a Sesudah Shalat Fardhu

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak Ustadz ini  ada pertanyaan. Setelah shalat fardhu tidak ada do’a, berdo’a stelah shalat fardhu tidak ada tuntunannya. Benarkan demikian?

Terimakasih atas jawabannya. (Dari jama’ah pengajian PRM Lontar)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Memang ada sebagian orang  Islam beranggapan bahwa setelah shalat wajib tidak ada do’a, yang ada adalah dzikir atau wirid. Sedangkan do’a, posisinya di dalam shalat, seperti dalam tasyahhud sebelum salam dan lainnya. Anggapan seperti ini tidak benar, karena sesungguhnya ada hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam berdo’a setelah salam. 

Diantara hadits-hadits tersebut adalah :
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ
Dari al-Bara’ Radhyallohu anhu, dia berkata, “Jika kami shalat di belakang Rasûlulloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam , kami senang berada di sebelah kanan beliau. Beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam akan menghadapkan wajahnya kepada kami. Aku pernah mendengar beliau berdo’a, “Wahai Rabbku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari (kiamat) yang Engkau akan membangkitkan atau mengumpulkan hamba-hambaMu”. [HR.Muslim, no. 709]

Di dalam hadits lain disebutkan :
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Dari Ali bin Abi Thalib Radhyallohu anhu, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, jika telah mengucapkan salam (selesai) shalat, beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Wahai Alloh ampunilah dosaku yang telah aku lakukan dan (dosa akibat dari kewajiban) yang telah aku tinggalkan, (dosa) yang aku rahasiakan dan yang aku lakukan dengan terang-terangan, yang aku telah melakukan dengan berlebihan dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkau adalah Muqaddim (Dzat Yang memajukan orang yang Engkau kehendaki dengan sebab mentaatiMu atau sebab lainnya) dan Muakh-khir (Yang memundurkan orang yang Engkau kehendaki). Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau”. [HR. Abu Dâwud, no. 1509; dishahihkan syaikh Al-Albâni]

Hadits ini dimuat oleh imam Abu Dâwud rahimahulloh dalam kitab Sunannya dalam bab: Mâ yaqûlur rajulu idza sallama (Apa yang diucapkan oleh seseorang jika telah selasai salam)

Doa-doa ini diucapkan oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam sendirian, tidak berjamâ’ah. Oleh karena itu beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata ganti tunggal, bukan jama’.

Dalam hadits yang pertama, beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Rabbku, jagalah aku dari siksaMu…”, beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Wahai Rabb kami, jagalah kami dari siksaMu…”.

Dalam hadits yang kedua beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Wahai Alloh ampunilah aku, (dosa) yang telah aku lakukan dan (kewajiban) yang telah aku tinggalkan…”.

Beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Wahai Alloh ampunilah kami, (dosa) yang telah kami lakukan dan (kewajiban) yang telah kami tinggalkan…”.

Ini menunjukkan bahwa do’a ini diucapkan seorang diri. Adapun kebiasaan yang dilakukan di berbagai masjid yaitu imam dan makmum selalu melakukan do’a dengan berjamâ’ah setelah selesai shalat wajib, maka AMALIYAH itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam,.

Kemudian yang menjadi perselisihan di kalangan ulama adalah pemahaman  Kalimat fii duburi kulli shalaah (فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ) dari hadits-hadits seperti ini:
 Hadits Mu’adz bin Jabal radhyallohu ‘anhu.
 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: " يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Dari Mu’aadz bin Jabal : Bahwasannya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda memegang tangannya dan bersabda : “Wahai Mu’adz, demi Alloh sungguh aku mencintaimu, demi Alloh sungguh aku mencintaimu. Aku akan berwasiat kepadamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan doa di akhir setiap shalat (fii duburi kulli shalaah). Bacalah : Alloohumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik (Ya Alloh, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan ibadah kepada-Mu dengan baik)” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1522; shahih].

Kalimat fii duburi kulli shalaah dalam riwayat lain dijelaskan
Hadits Abu Hurairah radhyallohu ‘anhu.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَمَنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمَنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ "
Dari Abu Hurairah ra : Bahwasannya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di akhir setiap shalat : “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabin-naar wa ‘adzaabil-qabri, wa min fitnatil-mahyaa wal-mamaati, wa min syarril-masiihid-dajjaal (Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ‘adzab neraka dan ‘adzab kubur. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati, serta kejahatan Al-Masiih Ad-Dajjaal)” [Diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Al-Mustakhraj no. 2078; shahih].

Kalimat fii duburi kulli shalaah dalam riwayat lain disebutkan setelah bacaan tasyahud, (masih dalam shalat/ sebelum salam) :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: مَا صَلَّى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعًا أَوِ اثْنَتَيْنِ، إِلا سَمِعْتُهُ يَدْعُو: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الصَّدْرِ، وَسُوءِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ "
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Tidaklah Nabiyulloh shallallohu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at atau dua raka’at kecuali aku mendengar beliau berdoa : “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabin-naar wa min ‘adzaabil-qabri, wa min fitnaish-shadr, wa suuil-mahyaa wal-mamaati (Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka, adzab kubur, fitnah hati, dan kejelekan kehidupan dan sesudah mati)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 1002; shahih].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Telah bersabda Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian telah bertasyahud, maka berlindunglah kepada Alloh atas empat hal. Bacalah : Alloohumma inni a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil-qabri, wa min fitnatil-mahyaa wal-mamaati, wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaal (Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam,adzab kubur, fitnah kehidupan dan sesudah mati, serta kejelekan fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 588].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin berkata menukil perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahumalloh :
دُبُرُ الشيء منه كدُبُرِ الحيوان، فإن الحيوان له دُبُر، ودُبُره في نفس الجسم، فكذلك دُبُر الصَّلاة يكون من الصَّلاة، وإذا كان الرَّسول صلّى الله عليه وسلّم أرشدنا بأن ندعو بعد التشهُّدِ صار الدُّعاء المقيَّد بالدُّبُر محلَّه قبل السَّلام آخر الصَّلاة. أما بعدَ الصَّلاة فهو الذِّكر.....
“Dubur dari sesuatu merupakan bagian darinya, seperti dubur hewan. Sesungguhnya hewan mempunyai dubur, dan dubur-nya ada pada tubuh hewan itu sendiri. Begitu pula dengan dubur shalat, merupakan bagian dari shalat. Apabila Rasul shallallohu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk berdoa setelah tasyahud, maka doa yang ditaqyid dengan ‘dubur’, tempatnya adalah sebelum salam di akhir shalat. Adapun setelah shalat, yang ada adalah dzikir....” [Asy-Syarhul-Mumti’, 3/62 – via Syamilah].

Sedangkan Para ulama berpendapat  Kalimat fii duburi kulli shalaah dimaknai Setelah Salam berpegang pada banyak dalil, di antaranya :

Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhyallaohu ‘anhuma.
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا سَلَّمَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ "

Dar Mu’awiyah bin Abi Sufyan : Bahwasannya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam biasa membaca fii duburi kulli shalaah (di akhir setiap shalat apabila selesai salam) : Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa ‘alaa kulli syain-qadiir. Alloohumma laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thiya limaa mana’ta, walaa yanfa’u dzal-jaddi minkal-jaddu” [HR. Al-Bukhari no. 6330].

   Hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhyallohu ‘anhu.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ مَيْمُونٍ الْأَوْدِيَّ، قَالَ: كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ، وَيَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ "، فَحَدَّثْتُ بِهِ مُصْعَبًا فَصَدَّقَهُ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’iil : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin ‘Umair : Aku mendengar ‘Amru bin Maimun Al-Audi, ia berkata : “Sa’d biasa mengajari anak-anaknya dengan kalimat-kalimat itu sebagaimana seorang pengajar mengajari anak-anak kecil menulis. Ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam biasa berta’awwudz dengannya pada duburi shalat (belakang shalat/sesudah shalat) : ‘Alloohumma innii a’uudzubika minal-jubni wa a’uudzubika an uradda ilaa ardzalil-‘umuri, wa a’uudzubika min fitnatid-dun-yaa wa a’uudzubika min ‘adzaabil-qabri (Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berpindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur)’. Lalu aku menceritakannya kepada Mush’ab, lalu ia membenarkannya” [HR. oleh Al-Bukhari no. 2822].

Dalam riwayat Ibnu Hibbaan dijelaskan maknanya :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، وَعَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ، قَالا: كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيهِ هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ كَمَا يُعَلِّمُ الْمَكْتَبُ الْغِلْمَانَ، يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ بَعْدَ كُلِّ صَلاةٍ: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsmaan Al-‘Ijliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidulloh bin usaa, dari Syaiban, dari ‘Abdul-Malik bin ‘Umair, dari Mush’ab bin Sa’d dan ‘Amru bin Maimun Al-Audiy, mereka berdua berkata : Sa’d biasa mengajari anak-anaknya dengan kalimat-kalimat itu sebagaimana seorang juru tulis mengajari anak-anak kecil menulis. Ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam biasa berta’awudz dengannya setelah shalat : ‘Alloohumma innii a’uudzubika minal-bukhli wa a’uudzubika minal-jubni wa a’uudzubika min an uradda ilaa ardzalil-‘umuri, wa a’uudzubika min fitnatid-dun-yaa wa a’uudzubika min ‘adzaabil-qabri (Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur)” [HR. Ibnu Hibban no. 2024].

Dari Abu Hurairah radhyallohu’anhu, Nabi Shallallohu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ ، وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Barangsiapa yang bertasbih (Subhanalloh 33 x)   fii duburi kulli shlaati (setelah selesai shalat ) dan Tahmid (al hamdulillah 33 x) dan Tabir (Allohu akbar 33x) , demikian itu jumlahna 99, dan Laa ilaha illallooh wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir/Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh semata. Tidak ada sekutu bagiNya. Semua kerajaan dan pujaan adalah milik Alloh. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu) Maka akan diampuni semua kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Muslim no. 597).

Hadits Abu Umamah radhiyallahu anhu bahwa Rasululloh shallallohu alaihi wasallam ditanya::
يا رسولَ اللهِ أيُّ الدعاءِ أَسْمَعُ ؟ قال : جَوْفَ الليلِ الآخِرِ ، ودُبُرَ الصلواتِ المَكْتُوباتِ
“Ada yang bertanya: Wahai Rasululloh, kapan doa kita didengar oleh Alloh? Beliau bersabda: “Di akhir malam dan di akhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, no. 3499, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (9/331) menyatakan bahwa makna “dubur shalawaat al-maktuubaat” dalam hadits ini adalah setelah shalat. Hal ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (11/134) dengan dalil hadits Al Bukhari dan Muslim tentang dzikir setelah shalat, bahwa diantara sabda Rasululloh:

تسبحون دبر كل صلاة
 “Kalian membaca tasbih setiap selesai shalat”.

Makna “dubura kulli shalaatin” disini tidak mungkin dimaknai sebelum salam, tapi dimaknai sesudah shalat karena dzikir tasbih, tahmid, dan takbir disunatkan dibaca setelah shalat. Dari sini dapat dipahami bahwa makna hadits Abu Umamah diatas adalah anjuran untuk berdoa setiap kali selesai shalat -bukan sebelum salam-
Atas dasar hadits-hadits di atas, jumhur  ulama menganjurkan untuk berdoa setelah shalat.
 Ibnu Rajab rahimahulloh mengatakan:
واستحب أيضاً أصحابنا وأصحاب الشافعي الدعاء عقب الصلوات، وذكره بعض الشافعية اتفاقاً
“Ulama madzhab Hambali dan juga madzhab Syafi’i menganjurkan untuk berdoa setelah shalat, bahkan sebagian Syafi’iyyah menukil adanya ittifaq (sepakat dalam madzhab Syafi’i)” (Fathul Baari, 5/254).

Imam An-Nawawi  berkata:Telah terjadi Ijma’ ( kesepakatan para ulama’ ) dianjurkannya berdo’a setelah salam.
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَدْعُوَ أَيْضًا بَعْدَ السَّلَامِ بِالِاتِّفَاقِ وَجَاءَتْ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ فِي الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ قَدْ جَمَعْتهَا فِي كِتَابِ الْأَذْكَارِ
“Dan dianjurkan juga untuk berdo’a setelah salam dengan kesepakatan para ulama’. Telah datang hadits-hadits shahih yang sangat banyak pada tempat-tempat ini dalam perkara dzikir dan do’a. Sungguh aku telah mengumpulkannya dalam kitab Al-Adzkar.” [ Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 3/484 ].

Jadi kalau ada umat Islam yang mengatakan bahwa doa setelah shalat fardhu adalah bid’ah. Ini keliru.

Pertama, di atas telah kami sebutkan contoh doa yang diucapkan setelah salam berdasarkan hadits-hadits yang shahih.

Kedua, para ulama hadits dan imam madzhab telah membuat satu bab tersendiri dalam kitab mereka dengan judul doa setelah shalat. Misalnya ; Al-Bukhari dalam Shahih-nya yang membuat bab berjudul [الدعاء بعد الصلاة] = ‘Doa setelah shalat’. Begitu juga Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid. Ath-Thabarani dalam Ad-Du’a membuat bab berjudul : al-qaulu fii adbaarish-shalawaat (ucapan/perkataan di akhir shalat), yang kemudian menyebutkan beberapa dzikir dan doa. Dan kitab-kitab yang lainnya.

Demikian jawaban dari kami. Semoga bisa mencerahkan.
Wallohu a’lam bish showab. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu