Siraman Rohani: Mereka Pekak, Tuli dan Bisu | Berita Populer Lazismu


Ustadz Abdul Hakim, MPdI

MEREKA PEKAK, TULI, DAN BISU
Drs. Abdul Hakim, M.Pd.I.

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam            keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
QS Thoha 125

Ketika gelap memenuhi kamar atau rumah kita, pasti ada rasa galau dan ngeri menyergap kesadaran. Betapa tidak nyaman berada dalam kegelapan ketika cahaya tidak bersama kita. Cobalah pejamkan mata beberapa saat, satu atau lima menit, kita pasti  merasakan ketidaknyamanan yang sama. Bukan hanya gelap di sekeliling, bahkan terasa ketidakberdayaan. Hidup dalam gelap menjadi tiada daya, selain meraba dan meraba dalam ketidakpastian. Gelap bisa membuat siapapun hanya bisa meraba,  tanpa arah dan tujuan. 

Pernahkah kita membayangkan suasana psikologis “lost” saat kita bersama para penyandang tunanetra? Mereka tidak hanya satu jam dalam “kebutaan” atau “gelap dan gulita”.   Sepanjang  hayat bahkan mereka  harus menerima takdir hidup dalam kegelapan, tanpa cahaya.  Tentu tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Tidak hanya gagal membedakan warna, mereka juga tidak bisa membedakan rupa. Tetapi, lihatlah banyak dari mereka ternyata bisa menjalankan peran kehidupan lebih baik dari kita yang normal, sehat wal afiat. 

Banyak penyandang “disable” itu lebih memiliki kepekaan spiritual, lebih khusyuk beribadah, lebih taat kepada Alloh dan Rosululloh. Lebih meyakini akhirat. Lebih bisa memilih yang haq daripada yang batil. Lebih mengutamakan  pahala daripada dosa. Lebih memilih halal daripada haram, lebih bisa membedakan kemuliaan dengan kehinaan, lebih mengharap ampunan daripada ancaman azab akhirat yang kekal. Lebih memilih syurga, daripada neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia. Banyak penyandang disable itu yang lebih sadar, bahwa dunia ini hanyalah kesenangan yang  sedikit, sesaat, atau sebentar yang bisa membuat banyak orang tertipu, tersihir, terlena, dan tergelincir. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Para penyandang cacat fisik itu bahkan lebih cepat dan mampu berprestasi. Mampu menghafal Alquran, mampu memainkan berbagai alat music seperti piano, biola, gitar, dan saxophone. Mampu meraih gelar doctor,  menguasai berbagai bahasa asing, juara dalam berbagai kompetisi intelektual, menjadi terapis handal, motivator dan inspirator, serta sederet kemampuan dan prestasi lainnya. Ternyata mereka lebih bisa memberi manfaat bagi nilai kemanusiaan. 

Sementara banyak manusia sehat justru terjebak dengan kebanggaan semu. Merasa lebih sempurna, padahal mereka tidak kunjung menorehkan kebajikan bagi diri ataupun sesama. Terjebak dengan kesombongan yang membuat  pongah terhadap makna dan tujuan hidup. Lebih membanggakan keunggulan lahiriyah, kemasyhuran  dunia, serta sibuk dengan memuaskan nafsu. Padahal Alquran Surat Al-A’rof 176 dan 179 menyebut mereka dengan ungkapan “anjing”, “Akan tetapi, orang kafir itu mencintai dunia, serta mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaan mereka seperti anjing.” atau lebih jelek dari “binatang” karena jauh dari hidayah, merendahkan Islam, kitab suci, atau ayat-ayat-Nya.“ “Sungguh kami akan campakkan kebanyakan jin dan manusia  ke neraka Jahannam. Mereka punya hati,  tidak digunakan memahami ayat-ayat Alloh, punya mata tidak digunakan membaca ayat-ayat-Nya, punya telinga tidak digunakan mendengarkan ayat-ayat-Nya. Mereka seperti binatang, bahkan lebih jelek. Mereka itulah orang yang lalai.”

Adalah Alquran yang mengingatkan, kebutaan itu ada dua. Kebutaan lahiriyah dan kebutaan batiniyah. Kegelapan atau kebutaan lahiriyah itu adalah para penyandang tunanetra, seperti yang dialami Abdullah bin Umi Maktum. Surat Abasa menyampaikan sebuah narasi yang sarat pesan dan hikmah. Rosululloh saw  diingatkan Alloh swt agar tidak mengutamakan menemui pembesar Quraisy seperti Abu Lahab dkk yang buta hati dan  sombong, serta membanggakan keunggulan  materi, dan jabatan. Padahal,  si buta Abdullah bin Umi Maktum  datang  menemui Rosululloh saw  ingin mengaji, belajar,  meraih iman dan mengamalkannya dalam kehidupan. Sejarah kemudian memang mencatat, Abdullah bin Umi Maktum adalah salah seorang sahabat yang salih, kesayangan Rosululloh saw,  hafal Alquran, serta mengetahui banyak sunnahnya.

Kegelapan atau kebutaan kedua adalah buta batiniyah. Qolbu dan akalnya tidak mampu atau menolak kebenaran yang datang dari Alloh dan Rosulnya. Apa sebab? Mereka lebih menuhankan nafsu. Menurut Alquran Surat Albaqoroh 18,  “Mereka (orang kafir) itu pekak, tuli dan bisu,” QS Surat Albaqoroh 7 menegaskan, “Alloh mengunci hati dan pendengaran mereka. Mata mereka terhalang dari cahaya  kebenaran.” 

Ya, mereka yang buta mata hatinya  tidak mengalami pencerahan ruhani atau spiritual. Banyak orang yang sehat secara lahiriyah, tetapi hatinya gersang, kering kerontang.  Akhirnya jauh dari hidayah, tidak berada di jalan lurus sirothol mustaqim. Namrud,  Firaun, Abrahah, dan Abu Jahal adalah sebagian contoh tokoh penguasa yang mengalami kebutaan spiritual. Banyak rahib Yahudi dan Nasrani disebutkan Alquran sebagai kelompok durhaka yang mendustai ayat-ayat-Nya. Mereka menghalkan yang haram, membenarkan yang batil, atau mencampur aduk yang hak dengan yang batil karena kesombongan dan  kebohongan demi meraup dunia dengan rakus. Mereka dimurkai dan dilaknat Alloh karena menuhankan nafsunya. Mereka pekak, tuli dan bisu dari ayat-ayat-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu