Pengantar Redaksi : Harta Mengantar Ke Syurga Atau Ke Neraka | Berita Populer Lazismu


Ustadz Abdul Hakim, MPdI 


HARTA MENGANTAR KE SYURGA ATAU KE NERAKA?

Para muzakky-donatur yang dimuliakan Alloh swt. 

Semoga Alloh selalu memudahkan kita menjadi hamba-Nya yang bisa istiqomah bersyukur saat nikmat diamanatkan kepada kita, serta bisa selalu sabar saat Alloh swt menguji kita dengan beragam ujian atau musibah. 

Dunia ini memang ladang ujian. Alloh swt akan menguji kita dengan beragam ujian. Kesehatan, usia, harta, jabatan, istri, suami, anak, adalah ujian. Kadang Alloh “melebihkan” kita dari lainnya, kadang “mengurangi”. 

Sebagian orang sadar, bahwa kelebihan dan kekurangan di dunia itu sunnatulloh. Sebab, tidak mungkin memang semua orang kaya, sehat, kuat, dan sumpurna. Tidak mungkin pula semua manusia miskin, sakit, lemah, dan cacat. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, atau kuat dan lemah itu ternyata bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan manusia. 

Semuanya mengandung pesan dan pembelajaran agar kita saling ber-empati terhadap sesama, bisa saling berbagi untuk meraih kebajikan, pahala, dan manfaat sebesar-besarnya. Sehingga hidup mendatangkan keselamataan, rahmat, dan keberkahan seperti yang tersurat  dalam salam special yang diamanatkan Rosululloh Muhammad saw kepada kita “Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuhu”. Semoga keselamataan, rahmat, dan keberkahan dari Alloh selalu terlimpah kepadamu wahai saudaraku seiman !” 

Betapa indah jika pesan ini selalu menjadi komitmen setiap mukmin. Pasti, umat Islam akan kokoh bersatu, tolong menolong, saling membantu dan menguatkan dalam menebar Islam rohmatan lil ‘alamin. 

Para dermawan, pejuang, dan relawan filantropi yang berbahagia. 

Dunia ini adalah harta yang dicipta dan dianugerahkan untuk manusia. Mencari dan memiliki harta itu memang perintah Islam.  Tentu, karena banyak fungsi atau manfaatnya. Harta pasti bisa menutup kebutuhan yang harus dipenuhi. Sandang, pangan, dan papan itu memang kebutuhan konsumtif. Maka, Islam memerintahkan kita berikhtiar untuk bisa memenuhinya. untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyib.  

Sungguh dholim, jika kita tidak berikhtiar memenuhi kebutuhan dasar yang diperintahkan-Nya. Maka, seorang mukmin yang mencari harta halal dan thoyyib adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Tentu harus selalu disadari bahwa harta itu adalah wasilah atau fasilitas agar memudahkan kita beribadah, menjalankan ketaatan kepada Alloh (hablun minalloh), serta menunaikan kebajikan  kepada sesama (hablun minnnas). 

Bukankah Rosululloh Muhammad`saw telah berpesan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama”.  Tentu, bukan semata manfaat dunia. Manfaat akhirat itulah yang lebih utama. Jika harta dunia hanya memberi manfaat dunia, betapa kecilnya. Jika hanya manfaaat dunia, tidak sedikit manusia tertipu karenanya. Manusia akan mengidap penyakit wahan. Cinta dunia, dan takut mati. Padahal, kita tidak akan membawa mati  sebanyak apa pun harta dunia ini, kecuali yang kita wujudkan dalam bentuk amal salih, atau zakat, infak, dan sodaqoh jariyah. Itulah yang akan memudahkan kita berselancar ke syurga-Nya. (Abdul Hakim)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu