Nasihat, Perlukah Buat Manusia? | Berita Populer Lazismu


Choirul Amin (Lazismu)

NASIHAT, PERLUKAH BUAT MANUSIA?  
Oleh : CHOIRUL AMIN


Ketika membaca judul tulisan diatas, pembaca yang cerdas tentu bertanya, apa hubungan nasihat dengan manusia?? Memangnya nasihat itu berguna buat manusia? dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang serupa dari pembaca lain. Namun yang perlu dipahami bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa menghindar begitu saja dari nasihat. Mengapa? Jawabnya ada di uraian berikut, namun sebelumnya penulis jelaskan disini bahw kata nasihat memiliki persamaan kata yang cukup banyak dibanding dengan kata-kata lain seperti Surga, Neraka, do’a dan seterusnya. 

Sekedar diketahui menurut Eko Endarmoko dalam Tesamokonya (Tesaurus Bahasa Indonesia) edisi kedua hal 468, kata nasihat bersinonim dengan kata : advis, Ajaran, anjuran, fatwa, masukan ,pengarahan, peringatan , pertimbangan, petuah, petunjuk, rekomendasi, saran, teguran, ujar - ujar, ular - ular (jw) dan wejangan.

Dengan banyaknya persamaan kata tersebut  wajar kalau kata Nasihat  dikenal oleh banyak orang, terlepas apakah materi  atau isi dari  nasihat tersebut di implementasikan (baca: di praktekkan) atau tidak dalam kehidupan sehari-hari mereka?

Sekedar ilustrasi, dalam khotbah nikah misalnya, seorang petugas KUA (Kantor Urusan Agama) selalu memberi nasihat kepada kedua mempelai tentang hak dan kewajiban mereka masing-masing setelah resmi menjadi suami istri. Sang petugas tanpa terbebani apakah nasihat yang baru saja ia ucapkan di dengar atau tidak. Yang terpenting adalah nasihat sudah tersampaikan, perkara didengar atau tidak, itu terserah mereka, mengapa?

Sedikitnya ada 3 alasan mengapa seseorang mau dan rela memberi nasihat, yang pertama adalah karena ilmu, kedua karena kekayaan (baca:harta) dan yang ketiga karena jabatan/profesi

1. Jabatan
Seperti ilustrasi di atas, seorang petugas KUA yang sedang menjalankan tugasnya. Beliau senang memberi nasihat lewat khotbah nikah. Karena ia memiliki otoritas penuh berupa jabatan sehingga ia tidak canggung apalagi ragu–ragu dalam memberikan nasihatnya.

2. Harta (Kekayaan)
Bagi seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya, seperti sebut saja Mr. Dollar. Ia Tak segan-segan memberi saran ini dan itu berkaitan dengan dunia bisnis yang ia geluti kepada komunitas pengusaha pemula. Di ikuti atau tidak nasihat beliau oleh mereka, itu bukan urusan dia lagi, jadi ada kecenderungan kuat bagi mereka (baca: orang kaya) suka memberi nasihat, saran, kepada orang lain.

3. Ilmu 
Bayangkan saja tiba-tiba ada pengajian akbar yang diselenggarakan oleh Ormas Islam tertentu dan yang memberi tausiyah (baca:ceramah) adalah seorang da’i muda yang baru menyelesaikan studi S3 nya di Luar negeri. Tentu ia sangat antusias menceritakan perihal keberhasilan studinya dan tak lupa memberi nasihat ini dan itu kepada jama’ah pengajian. Sesuai yang ia alami sendiri. 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah semua jama’ah pengajian yang hadir semua mendengar nasihat tersebut? Jawabnya belum tentu. Mengapa? Sedikitnya ada 3 alasan mengapa mereka Jama’ah Pengajian tidak suka mendengar nasihat tersebut yaitu: (1) karena faktor psikologi,(2) faktor ideologi dan (3) faktor gengsi.


1. Psikologi  
Seseorang bisa saja tidak suka diberi nasihat bahkan menolaknya, bukan karena materi atau isi dari nasihat tersebut kurang atau tidak bermutu. Tetapi karena Si pemberi nasehat tersebut kurang piawai dalam menyampaikan nasihatnya di samping kurang fokus juga terkesan di buat-buat, sehingga membuat orang bosan dan akhirnya tidak menyukainya.

2. Ideologi 
Sama halnya dengan faktor sebelumnya, faktor ideologi juga bisa membuat orang tidak suka bahkan menolak nasihat, saran peringatan yang datangnya dari orang lain. Misalnya, sebagus apapun nasihat dan saran atau usulan yang diberikan kepada orang lain jika si pemberi dan penerima nasihat tersebut berbeda ideologi, yang satu berideologi Pancasila yang satu lagi berideologi Liberal. Karena perbedaan ideologi itulah seseorang tidak mau bahkan menolak nasihat yang datangnya dari orang lain.

3. Gengsi 
Selain dua faktor diatas, yaitu psikologi dan ideologi, masih ada satu faktor lagi yaitu Gengsi yang membuat seseorang tidak suka bahkan menolak nasihat, saran bahkan kebenaran Firman Tuhan (baca: Al-Qur’an) sebagaimana penolakan yang dilakukan oleh para pembesar kaum Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan masih banyak lagi. Mereka menolak Al-Qur’an bukan karena mereka tidak tahu bahwa Al-Qur’an itu Firman Tuhan, tetapi mereka menolaknya karena takut kewibawaannya terancam runtuh di depan anggota sukunya. Demi gengsi mereka rela melakukan apa saja. Termasuk keinginan membunuh Nabi Muhammad yang notabene keponakannya sendiri.

Kesimpulan 
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak semua nasihat, petunjuk, saran pertimbangan dapat diterima oleh orang lain, itu karena 3 Faktor yaitu Psikologi, Ideologi dan Gengsi. Sebaliknya tidak sedikit orang senang memberi nasihat, disebabkan karena Faktor Ilmu, Harta dan Jabatan/ Profesi.

Penulis, adalah Pemerhati masalah pendidikan tinggal di Surabaya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu