MERAIH PRESTASI UMUR #3 : Dengan Selalu Mensyukuri Nikmat Allah | Berita Populer Lazismu

Ustadz Sunarko S.Ag M.Si 


MERAIH PRESTASI UMUR (3)
Dengan Selalu Mensyukuri Nikmat Allah SWT
Oleh : Sunarko, S.Ag, M.Si )*

Para muzakki, donatur dan pembaca yang di Rahmati Allah. Semoga kita tetap bisa Istiqomah (berpegang teguh) dalam menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sehingga selalu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Para dermawan muslim dan pembaca yang budiman.

Bersyukur kepada Allah merupakan kewajiban kita sebagai mukmin mengingat banyaknya nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita mulai nikmat yang paling kecil hingga nikmat yang paling besar. Alangkah jahilnya orang yang tidak pernah mensyukuri nikmat Allah. Jika kita bersyukur maka manfaat kesyukuran itu akan kembali kepada diri kita sendiri sebaliknya jika kita kufur, maka kekufuran tersebut tidak akan mengurangi sedikitpun ke Maha besaran Allah. Allah tetap Maha Besar, Maha Kaya dan Maha segala-galanya.
Firman Allah SWT di dalam Surat Luqman ayat 12 :

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu : “Bersyukurlah kepada Allah . Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Luqman, ayat 12).

Sungguh begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. bahkan saking besarnya nikmat Allah jika kita menghitung dengan alat hitung secanggih apapun saat ini manusia tidak akan bisa menghitung akan besarnya nikmat Allah. Hal ini sesuai Firman Allah Surat An-Nahl ayat 18 :rat An-Nahl Ayat 
18وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl, ayat 18).

Perintah bersyukur telah di jelaskan dengan tegas didalam Al-Qur’an dan Al Hadits dan merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk bersyukur kepada Allah SWT. Syukur terdiri dari tiga dimensi:

Pertama, Syukur dengan Hati. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya. Qorun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Allah, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata kerja keras. Hatinya meyakini bahwa semua nikmat yang didapatkan adalah berasal dari Allah SWT.

Kedua, Syukur dengan Lisan. Syukur dengan Lisan adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah SWT sambil memuji-Nya. Al-Qur’an, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi “Al-hamdulillah.” Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain. Kata ‘Al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa disebut al lil istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan”. Sehingga kata “Al-hamdu” yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Lisannya memuji Allah.

Ketiga, Syukur dengan Perbuatan, Anggota badannya di gunakan untuk beramal sholeh. Terhadap karunia Allah mewujudkan syukur dengan peduli dan semangat untuk terus berbagi baik kepada kerabat dekat maupun orang-orang disekelilingnya yang membutuhkan bantuan.

Penghargaan dan Hukuman terkait Syukur dan Kufur

Syukur adalah perwujudan dari taqwa seseorang hamba kepada Sang Pencipta. Orang yang bertaqwa disamping ia selalu mentaati Allah, mengingat Allah ia juga selalu mensyukuri nikmat Allah. Pantang bagi orang-orang yang bertaqwa itu kufur terhadap nikmat-nikmat Allah. Dalam kondisi apapun ia akan selalu mensyukuri nikmat Allah dengan tidak sekali-kalipun mengkufuri nikmat-Nya.

Perintah bersyukur sebagaimana Firman Allah Surat Ibrahim ayat 7 :t 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim, ayat 7).

Dari ayat diatas menegaskan bahwa ada reward dan punishmen terkait syukur dan kufur. Bagi hamba-Nya yang bersyukur Allah SWT akan memberikan balasan berupa bonus, penghargaan/tambahan nikmat yang tiada terhingga banyaknya, sebaliknya bagi hambanya yang kufur Allah menegaskan memberikan ancaman berupa Adzabnya yang sangat pedih. Bersyukur itu cermin taqwa seseorang kepada pencipta-Nya. Ada orang yang di beri kekayaan yang melimpah tapi ia lupa bahwa rezeki yang di dapatkan itu adalah dari Allah semata, sehingga lupa untuk melaksanakan perintah-Nya baik dengan menunaikan zakat, berqurban dan sebagainya.

Banyak contoh orang yang hidup serba kekurangan tapi karena kesyukuran yang tinggi kepada Allah, karena keikhlasan dan kesungguhan untuk melaksanakan perintah Allah, ada tukang becak di Jogyakarta yang becaknya adalah bukan milik sendiri tapi milik majikannya. Tapi karena keinginan untuk bisa berqurban sebagai wujud syukur atas nikmat Allah, Tukang becak tersebut setiap setor ia tambahkan setorannya kepada majikannya. Lebihnya adalah untuk menabung berqurban. Karena kesungguhan, ke ikhlasan dan bentuk kesyukurannya akhirnya tiap tahun tukang becak tersebut bisa berqurban. Ada banyak contoh yang sesungguhnya dapat kita tiru untuk mensyukuri nikmat Allah.

Semua kembali kepada diri kita masing-masing apakah dengan nikmat dan karunia Allah kita mensyukurinya atau justru kita mengkufurinya. Kalau kita beryukur balasannya sudah pasti yakni tambahan nikmat Allah yang akan kita terima sebaliknya kalau kita kufur tentunya harus siap menerima adzab Allah SWT. Mari kita raih prestasi umur dengan selalu mensyukuri nikmatnya. Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang selalu bersyukur.  Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Penulis adalah Ketua Badan Pengurus LAZISMU Kota Surabaya, Kasi Bina Sosial Keagamaan Dinas Sosial Kota Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu