Lentera Hati: Marah dan Sedih | Berita Populer Lazismu


M. Khoirul Anam, MPdI 


MARAH DAN SEDIH 
Oleh: M Khoirul Anam, MPdI (Wakil Sekretaris LDK PWM Jawa Timur)

Dalam hidup sehari-hari, tentu kita pernah merasakan kesedihan yang diakibatkan suatu peristiwa yang tidak menyenangkan terhadap kita. Begitu pula juga amarah, tak jarang ia juga mampir dan menempel dalam kehidupan kita. Dalam hidup, banyak hal-hal yang menjadi keinginan kita, tetapi semua yang kita inginkan belum tentu bisa terpenuhi, hal inilah yang terkadang membuat kita marah atau sedih. Sedih dan marah adalah bumbu yang mewarnai kehidupan manusia.

Para ulama menyatakan bahwa kesedihan adalah kemurkaan yang tak dapat dilampiaskan kepada orang yang lebih kuat dari pada kita, sedang kemarahan adalah kemurkaan kepada orang yang lebih lemah. Didalam kemarahan terdapat unsur kekuatan dan pemaksaan, sehingga Allah pun dikatakan bersifat marah dengan kemarahan yang layak bagi keagungan-Nya. Sedangkan kesedihan menunjukkan ketidakpuasan dan kekecewaan, dan merupakan tanda ketidakmampuan. Karenanya ia tidak disifatkan kepada Allah. 

Allah menyatukan keduanya dalam firmannya “ tatkala Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih “ (Al-‘Arof : 150)

Dalam ayat diatas, tentu kita tahu. Setelah Nabi Musa Meninggalkan Umatnya selama beberapa hari, dan beliau kembali ternyata umatnya banyak yang ingkar dan tidak menyembah Allah SWT, karenanya ia Marah karena ketidakpatuhan terhadap perintah Allah dan ia bersedih karena kekuasaan yang tidak dimilikinya.

Kesedihan dinafikan dari Allah oleh syariat dan dilarang keras terhadap Nabi Muhammad SAW, tentu saja sebagai manusia tentu beliau terkadang merasakanya, tetapi jika ia datang, ia menjadi penebus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ”Allah menjadikan setiap kegelisahan, kecemasan, kelelahan, keletihan, bahkan duri yang menggores seorang mukmin, sebagai penebus dosa-dosa mereka” .

Kemarahan ada yang terpuji dan ada yang tercela, yang terpuji adalah yang disebabkan oleh kecintaan kapada agama, pembelaan terhadap kehormatannya, serta penolakan terhadap kemungkaran. Karena itu, dalam hadist shohih disebutkan “ janganlah kamu, janganlah kamu marah, janganlah kamu marah “.

Adalah Rasululullah ketika marah selalu menempatkannya dengan pas, Rasulullah adalah seorang nabi yang juga pernah marah, tetapi marah beliau sangat profesional, ketika agama di injak-injak, ketika perintah Allah diremehkan, ketika al-Qur’an di hinakan, maka Rasulullah sangat murka dan akan membela dengan nyawanya sekalipun, tapi beliau sendiri ketika dicaci, di cemooh, disakiti, bahkan akan dibunuh, maka beliau sabar bahkan mendo’akan kebaikan dan memaafkan. 

Pernah suatu ketika Rasulullah Marah besar, ketika mendengar keluhan dari salah seorang sahabat, yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang (Ghonimah), lalu saat itulah Rasulullah dengan nada yang tinggi bersabada “kalau Allah dan Rasulnya sudah dianggap tidak adil lalu siapakah yang lebih adil dari keduanya…” seketika itu para sahabat terdiam, mereka baru tersadar bahwa yang mereka lakukan salah.

Kemarahan Nabi Muhammad SAW adalah demi Allah, bukan demi dirinya sendiri, karena telah melapangkan orang yang menyerobot hak-haknya dan memaafkan orang yang menyakitinya, beliau memaafkan dan melupakan, tetapi beliau akan marah apabila melihat  hukum-hukum tidak berjalan  dan kehormatan-kehormatan Allah ternodai. semoga Allah mencurahkan sholawat dan salam kerpada Beliau keluarganya dan sahabat-sahabatnaya.

Didalam al-qur’an disebutkan “pada saat mereka membuat kami murka, kami pun menghukum mereka, murka sama dengan marah, tapi ada yang mengatakan murka adalah puncak kemarahan. Terkadang ia juga puncak kesedihan Nabi Ya’kub berkata “aduhai duka cita terhadap yusuf dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah orang yang menahan marah terhadap anak-anaknya. ( Yusuf : 84 )

Rasulullah melarang kesedihan karena ia tidak dapat mengembalikan apa yang hilang, tidak mendatangkan apa-apa yang telah lewat, tapi malah melemahkan jiwa dan menghalanginya dari ibadah kepada Tuhannya,. beliau selalu bergembira dan berlapang dada, sebagai anugerah Allah, bagi beliau sebagaimana firmannya “bukankah kami melapangkan untukmu dadamu :” al-insyiroh : 1

Ada seorang laki-laki marah-marah dihadapan Rasulullah. Lalu beliau memerintahkan supaya ia berlindung kepada Allah dari godaan setan. Dan berikut ini adalah tips-tips dari Rasulullah bagaimana bisa menghindari kemarahan. 
1,  Melawan watak marah “ dan orang-orang yang menahan amarahnya “
2.  Berwudlu. Marah adalah api, dan api hanya bisa dipadamkan oleh air
3. Jika seseorang marah sedang ia berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika sambil duduk belum reda maka berbaring. 
4.  Diam dan jangan berbicara saat sedang marah.
5. Selalu mengingat-mengingat pahala orang-orang  yang menahan amarahnya yang memberikan maaf kepada sesama dan yang bersikap toleran.

Demikian semoga bermanfaat. “Wallahu ‘alamu Bish-showab “

Refleksi : 
Kesedihan  yang kita alami adalah merupakan sebuah fase untuk memperoleh kekuatan baru, bukan sebagai pintu kelemahan yang justru merugikan. Sedangkan Kemarahan yang tak terkendali biasanya akan menghasilkan kata-kata dan perilaku keji yang bisa melukai orang lain dan memutuskan persaudaraan.           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu