Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu




Ustadz Sudarusman, ST


Goblok nggak opo-opo
Oleh: Sudarusman, ST

“Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak bisa menolong moral dan etika yang buruk.”

Disaat PPDB berlangsung ada seorang calon wali murid suami dan istri mendaftarkan anaknya yang pertama, berjenis kelamin laki-laki. Mereka berdua berlatar belakang sebagai pendidik, memiliki kemampuan berdialog cukup baik, artinya mereka mampu menyampaikan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh anaknya secara rinci. Dengan mulus mereka menceritakan kronologis kejadian yang dialami oleh anaknya selama di sekolah dasar bahkan sesekali diselingi kejadian di keluarganya. Serta dengan mudah mereka menyesuaikan diri dengan petugas pendaftaran siswa baru termasuk saya sebagai kepala sekolah.

Mereka menceritakan bahwa anak pertamanya lahir tidak normal, yang dimaksud lahir lebih awal dari yang diperkirakan (premature). Anaknya kurang suka pelajaran yang menggunakan logika, dampaknya anaknya kurang menguasai pelajaran yang diberikan oleh gurunya, namun, ia suka bergaul dan amat ramah dengan teman-temannya termasuk dengan kakak-kakak kelasnya. Terhadap bapak dan ibu gurunya pun, mudah menyesuaikan diri, tidak terkecuali dengan guru yang sering dianggap kiler oleh sebagian siswapun ia bisa bekerja sama. Maka dapat dipahami anak tersebut mendapat tempat dihati para guru-gurunya.

Didorong rasa ingin tahu, saya mendekati panitia penerimaan siswa baru ikut nimbrung ngobrol bersama. Mereka ramah, mudah akrab dan bahkan tampak senang saat saya sebagai kepala sekolah bergabung dengan dirinya sambil menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan prilaku anaknya. Bahkan mereka sempat bertanya apa benar bapak yang bernama Sudarusman. Dari obrolan itu saya jadi tahu kalau ternyata anaknya, berdasarkan tes kecerdasan dinyatakan IQ nya dibawah normal alias kurang pintar. Artinya anaknya mengalami keterlambatan menguasai mata pelajaran tertentu dibandingkan dengan anak-anak se-usianya.

Setelah mengetahui saya sebagai kepala sekolah, tampaknya kedua orang tua ingin tahu, bagaimana solusi pendidikan buat anaknya. Maka muncul beberapa pertanyaan dan keluhan tentang anaknya.

 “anak saya dua orang. Yang petama laki-laki yang saya daftarkan di sekolah ini, dan yang ke dua baru kelas 3 Sekolah Dasar,” ujar Ayahnya sambil menatap istrinya tanda minta persetujuan. 

“saya memilih sekolah ini karena disuruh oleh kepala sekolah dan guru SD nya.  Pak, tapi saya sekarang bingung, karena anak saya yang nomer satu ini tidak sama dengan adiknya. Dia sukar sekali kalau diajari pelajaran terutama yang berhubungan dengan menghitung. Mengapa begitu, Pak? Bukankah seharusnya dia lebih pandai dari adiknya? Mengapa justru kalah dengan adiknya yang baru kelas 3 SD?”

Mendapatkan pertanyaan telak seperti itu, saya berpikir bagaimana saya harus menjawab  tanpa harus menyinggung perasaannya.

“seharusnya bapak dan ibu bangga punya anak seperti  mereka, mengapa? Karena ia memiliki moral dan etika yang sehat, ia memiliki sifat sosial yang tinggi, ia sangat mengetahui kelebihannya dan faham akan kekurangan dirinya. Itu semua adalah bekal utama untuk hidup di masa depan. Artinya bapak dan ibu tidak usah takut anaknya dikatakan IQ dibawah rata-rata, mereka masih kecil masih memiliki kesempatan untuk berkembang kepintarannya. Goblok nggak opo-opo, asal moral dan etika tertata rapi,”  sambil saya jabat tangannya, saya sampaikan, mohon maaf, ini semua bahasa motivasi. 

Pendidikan kita tampaknya terlalu teoritik, selalu diukur dengan kemampuan kognitif, tidak aplikatif dengan kehidupan, justru makin memisahkan dengan kegiatan sosial sehari-hari. Pendidikan kita tidak membekali bagaimana menghadapi kehidupan nyata di masyarakat, sehingga mereka sulit bersosialisasi dengan lingkungan dimana mereka berada. Mereka hanya tahu banyak hal melalui buku-buku, tanpa kegiatan nyata. Lulus ujian dan mendapatkan ijazah dengan nilai yang tinggi adalah target utamanya.

Sudah seharusnya dalam pendidikan, kita tidak boleh hanya memikirkan metode pembelajaran dan peminatan sesuai passion siswa saja. namun lebih dari itu yang harus kita pikirkan adalah materi yang kita ajarkan apakah sudah tepat. Artinya pendidikan melalui persekolahan bisa menghasilkan anak-anak memiliki kompetensi pengetahuan yang pada akhirnya bisa memecahkan segala problema yang mereka hadapi saat ini dan masa depan, serta ilmu yang mereka dapatkan tidak tertinggal dengan dinamika masyarakat di mana mereka berada. (Kepala SMA Muhammadiyah 10 Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu