Tanya-Jawab Agama Lazismu: Lebih Utama Perempuan Shalat di Rumah atau Masjid? | Berita Populer Lazismu


Ilustrasi tempat shalat di rumah (foto diambil dari google)


Lebih Utama Perempuan  Shalat di Rumah atau Masjid?

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum  warahmatullohi wabarakatuh.

Pak ustadz…Ini ada pertanyaan… Ada jama’ah dari suatu masjid becerita kepada saya, bahwa jama’ah di masjidnya setiap waktu shalat jama’ah dari kalangan ibu-ibu cukup banyak. Demikian juga kalau ada kajian-kajian Al-Islam juga banyak, hingga kemakmuran masjidnya sangat Nampak, katanya... Tetapi setelah ada ustadz berceramah, dalam ceramahnya beliau mengatakan bahwa bagi ibu-ibu lebih baik shalat di rumahnya, itu pahalanya sama dengan berjama’ah di masjid (ustadz tadi tidak menyebutkan dalilnya/haditsnya) Sehingga besoknya jama’ah dari ibu-ibu berkurang sampai akhirnya sepi tinggal satu dua orang saja.

Salah satu ta’mirnya/pengurus masjid agak menyesal atas ceramah ustadz tersebut.
Yang  ingin saya tanyakan, apa ada dalil/Al Qur’an/hadits shahih tentang perempuan shalat sendiri di rumah pahalanya atau keutamaannya sama dengan shalat berjama’ah di masjid bersama jama’ah lainnya di masjid? (Kalau tidak keberatan dikirimi matan dalilnya)
Atas jawabannya kami sampaikan terima kasih. Jazakumullohu khoiron
(Dari jama’ah pengajian PRM Lontar Sambikerep)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Hadits yang saudara tanyakan adalah sebagai berikut:

1. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud, no. 570.

Al-Hafidh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat pengertian hadits ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225).

2. Dari Ummu Salamah radhiyallohu ‘anha, Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).

3. Istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasululloh, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab,
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
“Aku telah mengetahui hal itu bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).”

Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya, beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Alloh (meninggal dunia, pen.) (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Namun ada hadits yang lebih shahih yang menerangkan keutamaan keutamaan shalat berjama'ah di masjid. Diantarnya adalah:

Dari Anas radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda,
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650).

Dari Abi Hurairah radhiyallohuanhu bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda,
صَلاَةُ الرَّجُلِ فيِ جَمَاعَةٍ تَضْعُفُ عَلىَ صَلاَتِهِ فيِ بَيْتِهِ وَسُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضَعْفًا. وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلىَ الْمَسْجِدِ لاَ يَخْرُجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لمَ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهَا دَرَجَة وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً فَإِذَا صَلىَّ لَمْ تَزَلْ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فيِ مُصَلاَّهُ مَا لَمْ يَحْدُثْ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَلاَ يَزَالُ فيِ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ
"Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian di rumahnya atau shalat di pasarnya dengan dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian mendatangi masjid dimana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa,"Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia. Dan dia tetap dianggap masih dalam keadaan shalat selama dia menunggu datangnya waktu shalat.". (HR. Bukhari Muslim).

Adanya janji pahala dari Alloh yang berlipat ganda inilah yang menjadi motivasi besar bagi kaum muslimin  dan muslimat untuk menunaikan shalat berjama'ah di masjid.
Pada zaman Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam , kaum perempuan kerap hadir shalat berjamaah. Tentunya ketika kondisi aman lagi kondusif.
Dan di dalam hadist Aisyah, beliau mengatakan:
كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْغَلَسِ
”Para wanita pada zaman Rasululloh (shahabat wanita) menghadiri shalat shubuh bersama Rasululloh secara berjamaah dengan membungkus diri dengan kain-kain mereka, kemudian mereka pergi ketika selesai shalat, tanpa ada seorangpun yang mengenal mereka karena masih gelap”.(HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ucapan Aisyah -radhiyallohu ‘anha-:”tanpa ada seorangpun yang mengenal mereka”, karena pada waktu malam situasi lebih gelap sehingga pandangan menangkap obyek dengan samar, seakan para shahabat wanita tersebut “bertameng dengan kegelapan”, berbeda jika di waktu siang, maka keadaan akan terang benderang.

Hadits-hadits yang menerangkan sahabat perempuan berjama’ah di masjid bersama Rasululloh ini banyak sekali dan derajatnya sahih, juga banyak cerita dari istri-istri Rasululloh, Ummu Salamah ra juga menambahkan, "Di masa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam, para wanita ikut hadir dalam shalat berjamaah. Selesai salam segera bangkit meninggalkan masjid pulang kembali ke rumah mereka." (HR Bukhari).

Bahkan di antara sahabiyah (kaum perempuan) di masa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam ada yang membawa bayi untuk ikut shalat berjamaah. Hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari ra mengatakan, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam pernah berniat ingin memanjangkan shalatnya. Namun, tidak lama Beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam mendengar tangisan bayi. "Maka aku pun memendekkan shalatku karena aku tidak suka memberatkan ibunya," sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam  (HR Bukhari)

Jadi, perbuatan melarang kaum wanita untuk ikut shalat berjamaah ke masjid adalah tindakan keliru. Hal ini juga bertentangan dengan hadits Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam,
لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ
”Jangan kalian (para suami atau orang tua wanita)  melarang  (para wanita) untuk shalat di masjid”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Dan  di dalam riwayat yang lain Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ
”Jika para wanita meminta ijin kepada kalian untuk pergi ke masjid di waktu malam, maka hendaknya kalian memberi ijin kepada mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kendati demikian, hukum shalat berjamaah di masjid bagi kaum perempuan tidaklah wajib. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (3/125) mengatakan, tidak ada perselisihan di kalangan ulama dalam hal tidak wajibnya kaum perempuan untuk hadir shalat berjamaah di masjid. Menurut Imam Nawawi, hukumnya bukan fardhu ain, bukan pula fardhu kifayah, melainkan hanya mustahab (sunnah). Demikian menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab (4/188).

Kaidah asal kaum perempuan dihukum sunnah untuk ikut shalat berjamaah ke masjid. Apalagi, selepas shalat juga ada pengajian. Tentu hal inilah yang lebih utama mengingat ada aspek ibadah dan tarbiyahnya.

Namun, jika shalatnya kaum perempuan di masjid mengundang fitnah, rawan keamanan, serta udzur lainnya, kembali kepada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad
Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam bersabda:
عن أم حُمَيد امرأة أبي حميد الساعدي رضي الله عنها قالت: يا رسول الله إني أحب
 الصلاة معك، قال: (قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي .
”Dari Ummu Humaid -Istri Abu Humaid As-Sa’idi-, dia berkata, Wahai Rasululloh, sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaksanakan shalat bersamamu (berjamaah di masjid bersama Nabi), maka Rasulullah bersabda: “Saya mengetahui bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi)”. HR Ahmad, dan dihasankan oleh Syaikh Syua’ib Al-Aurnauth dan Syaikh Al-Albani.

Fitnah yang dimaksudkan, jika mengundang ikhtilath (percampuran) antara laki-laki dan perempuan walau mereka berada di masjid atau tidak tersedianya tempat yang tertutup di ruangan masjid.

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali memakruhkan wanita berparas cantik untuk shalat berjamaah ke masjid. Yang demikian jika kecantikannya mengundang fitnah bagi jamaah laki-laki. Bahkan, Imam Malik secara tegas melarang wanita cantik dan kaum perempuan yang ber-tabarruj (berhias secara berlebihan) untuk shalat di masjid jika diyakini akan menimbulkan fitnah bagi jamaah laki-laki.

Imam Malik berdalil dengan hadits Nabi shallallohu alaihi wa sallam, "Setiap wanita Muslimah dari golongan mana saja yang terkena atau memakai wangi-wangian maka hendaklah tidak mengerjakan shalat Isya bersama kami." (HR Muslim). Tentu saja larangan ini bukan hanya untuk shalat Isya, melainkan juga seluruh shalat fardhu yang dilaksanakan.

Intinya, selama aman dari fitnah dan pengaruh-pengaruh negatif, wanita disunnahkan shalat berjamaah ke masjid. Adapun jika mereka ingin shalat di rumah, mereka tetap mendapatkan ganjaran pahala shalat berjamaah.

Demikian jawaban kami, semoga bisa dipahami. Wallohu a'lam Bisshowab. (*)

Penulis: Ustadz Imanan
Editor: Habibullah Al Irsyad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu