Sudarusman: Guru Harus Mengikuti Spirit Zaman | Berita Populer Lazismu


Sudarusman, ST (Dokumen Pribadi)

LAZISMUSBY.COM

Secara realita, tidak jarang guru dihadapkan suatu keadaan yang tidak menguntungkan dalam proses belajar mengajar di sekolah pada saat ini. Percepatan pengetahuan dan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat drastis dalam segala bidang kehidupan.

Tak terkecuali, pendidikan salah satunya proses belajar mengajar, jika guru tidak mengikuti perkembangan akan tertinggal. Ditambah lagi terkait perubahan perilaku siswa akibat teknologi digital, misalnya siswa tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan, enggan bertanya, kurang tertarik mengikuti pelajaran dengan baik. Maka dari itu seorang guru dan tenaga pendidik harus mampu melihat masa depan. Jika mereka hanya berpikir masa sekarang, maka peserta didik akan tergilas oleh zaman, mereka asing dengan dunianya.

Guru adalah pendamping dan pembimbing. Oleh karena itu, di era digital guru dituntut memahami bahwa pendidikan saat ini diwarnai dengan era big data. Dalam era big data adalah era di mana semua pengetahuan sudah tersedia secara digital dan sesuai dengan data.

Dari sini, guru sebagai pendamping dan fasilitator sangat dibutuhkan dalam melakukan perannya. Namun, dalam melaksanakan tugasnya, guru harus memiliki komitmen mengembangkan keterampilan siswanya melalui 3 peran yaitu teladan, inspirasi dan motivasi, melalui pendekatan yang menyenangkan dan kesabaran.

Dengan harapan hubungan guru dengan siswa menjadi akrab, saling komunikasi dua arah, yang paling penting sama-sama merasa bahagia. Jika suasana keakraban itu terjadi, kehadiran guru selalu ditunggu oleh siswanya, dan proses pembimbingan akan berjalan dengan baik. Yang perlu diingat literasi data saat ini sangat diperlukan untuk kemudahan mengakses informasi. Para siswa bisa dengan mudah memperoleh pengetahuan yang mereka inginkan.

Perubahan zaman yang diikuti percepatan ilmu pengetahuan dan era revolusi Industri 4.0. dunia pendidikan juga akan diwarnai dengan era big data. Akan berdampak pada pola pikir siswa. Artinya siswa memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber.

Akibatnya tidak sedikit siswa tahu lebih awal beberapa materi yang akan diajarkan, sehingga sering terjadi muncul pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang memotivasi. Kelak, kesan siswa menemukan konsep atau teori yang mereka ketahui lebih awal itu bukan semata-mata karena diberi tahu oleh gurunya.

Oleh karena itu, guru dituntut harus ada keberanian melakukan perubahan dari pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang berbasis big data. Maka, guru mau tidak mau harus melakukan revitalisasi pendidikan, dimulai dari standar nasional pendidikan, standar proses, standar kompetensi, standar penilaian dan yang sangat penting merevitalisasi proses belajar mengajar. Maka jika tidak, akan meyiapkan generasi yang tertinggal dengan zamannya.

Melalui revitalisasi sistem pendidikan, diharapkan siswa mampu menjadi subjek dan tidak pernah takut untuk menanyakan banyak hal kepada guru. Begitu juga gurunya berdasar literasi data dan literasi teknologi mampu memberikan jawaban-jawaban dalam bentuk pertanyaan dengan ilustrasi membangun percaya diri siswanya. Jika itu dilakukan secara berulang-ulang, siswa akan terbiasa membuat pertanyaan-pertanyan yang mengarah pada penyelesaian masalah.

Itulah yang oleh para ahli disebut learning how to learn . Kemampuan  ini yang harus dikembangkan pada siswa kita, agar terus dapat belajar dengan gembira, mandiri, hingga masa dewasa di era revolosi industri 4.0.

Setelah adanya literasi data dan literasi teknologi, tugas guru sebagai pendidik mempunyai makna ganda. Di samping sebagai pentransfer ilmu pengetahuan,  pendamping, teladan dan sebagai motivasi. Oleh karenanya, guru yang bisa dijadikan teladan adalah guru yang waspada pada dirinya. Dengan demikian tidak ada lagi guru yang ingin menang sendiri, dan merasa benar.

Guru benar-benar peduli dan muncul rasa cinta terhadap siswanya, tidak terlalu memaksakan diri bertindak di luar kemampuannya. Artinya, era digital dengan literasi teknologi membawa siswa lebih akrab dengan teknologi, dan mengakibatkan hilangnya interaksi sosial, maka guru harus mamu memerankan literasi humanisme, agar mampu menjalin komunikasi dengan siapa pun, serta tidak tertinggal dengan spirit zaman. (*)

Penulis: Sudarusman, ST (Kepala SMA Muhammadiyah 10 Surabaya)
Editor: Habibullah Al Irsyad


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu