Sekolah Tidak Boleh Merasa di Zona Nyaman, Namun Tetap Fokus SDM yang Inovatif |Berita Populer Lazismu


Foto SMA Muhammadiyah 10 (Dokumen Sekolah)

Sekolah Tidak Boleh Merasa di Zona Nyaman, Namun Tetap Fokus SDM yang Inovatif

 “Teknologi Digital membawa perubahan yang sangat drastis dalam segala macam bidang kehidupan, tak terkecuali sekolah, jika sekolah ada di zona aman, tidak mengikuti perkembangan dan tidak menciptakan SDM yang inovatif akan ketinggalan”

Petikan tersebut, merupakan tantangan bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk mengembangkan kreativitas keluarga sekolahnya, karena kreativitas merupakan modal awal kemampuan berinovasi. Secara jujur harus diakui tidak sedikit sekolah-sekolah Muhammadiyah sudah merasa nyaman dan tidak memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang inovatif, sehingga dapat dipahami jika sekolah-sekolah Muhammadiyah cenderung statis dan mulai kurang diminati masyarakat.

Suatu hal yang patut disyukuri, pendidikan Muhammaadiyah hingga memasuki abad kedua  dalam kompetisi sekolah yang semakin terbuka masih tetap eksis dan tegar bertahan. Sekolah Muhammdiyah tetap konsisten dengan  ciri pendidikan ala Muhammadiyah. Tidak ada yang menyangkal bahwa Muhammadiyah adalah peletak dasar dan pelopor pembaharuan pendidikan islam di Indonesia.  Sudah selayaknya persyarikatan Muhammadiyah saat ini dituntut terus berusaha untuk melakukan perubahan, dengan harapan pendidikan Muhammadiyah tetap menjadi kiblat pendidikan Islam modern di Indonesia.

Berdasar fakta tersebut, maka jelas sekali Muhammadiyah merupakan  “modernisasi” pendidikan madrasah dan “spritualitas sekolah”. karena itu, sekolah Muhammadiyah tetap memiliki diferensiasi dari sekolah lain. Sejauh ini sekolah-sekolah yang dikelola oleh persyarikatan Muhammadiyah masih bisa bersaing, bahkan menunjukkan tren positif, prestasi yang diraih dari regional, nasional sampai internasional. Tetapi, semua prestasi yang telah diraih tidak boleh menjadikan lupa diri, hingga merasa di zona nyaman (comfort zone).

Jika sekolah Muhammadiyah setelah mencapai prestasi, merasa besar dan merasa nyaman, mulai muncul kerangka berpikir untuk menghindari tantangan baru. Tanpa sadar, bahwa sekolah yang  tidak lagi menciptakan SDM yang inovatif serta tidak tanggap adanya perubahan. Maka cepat atau lambat  kekuatan positioning terhadap pelanggan akan menurun dan customer beralih ke sekolah lain. Mengapa? Karena karya – karya inovatif dan daya juang yang membara atau burning platform sudah hilang dan melemahkan segala kelebihan yang dulu sekolah miliki. Artinya kalau dulu penuh dengan kegiatan yang kreatif, inovatif dengan  semangat kerja cerdas, kerja keras melakukan perubahan terus menerus, sekarang menilai perubahan sudah tidak perlu lagi, bahkan menilai perubahan akan membuat masalah.

Gedung yang besar, prestasi yang tidak pernah henti, serta jumlah peserta didik yang banyak tidak jarang membuat sekolah berjalan di tempat dan merasa nyaman. Karya dan ide kreatif yang inovatif dan kerja keras yang pernah dilakukan guna melakukan perubahan berangsur-angsur menurun. Sekolah hidup dalam kenyamanan tidak perlu lagi mengkwatirkan posisi sekolah ke depan. Merasa sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat, yakin bahwa calon peserta didik baru akan datang sendiri. Merasa di zona aman inilah yang menyebabkan sekolah merasa tidak memerlukan evaluasi, atau perbaikan, sehigga posisi sekolah semakin lengah dan lemah.

Untuk itulah, sekolah Muhammadiyah tidak boleh merasa di zona aman,  harus memiliki keinginan untuk mempertahankan prestasi yang diraihnya dengan tetap mencipta SDM yang inovatif, sekolah Muhammadiyah harus mampu bersaing antar sekolah yang tebuka serta mampu menampilkan motto berlomba-lomba untuk meraih prestasi, unggul dan menjadi pemenangnya. Predikat prestasi tidak hanya melekat pada sekolah saja, namun harus berbanding lurus dengan prestai siswa dan gurunya. Dengan demikian  sekolah Muhammadiyah akan menjadi role model pendidikan Islam Indonesia.

Dengan semangat yang kuat dan ada keberanian menghadapai tantangan yang baru itulah, sekolah Muhammadiyah akan tetap bertahan dalam menghadapi kompetitor baik negeri maupun swasta yang berbasis islam, yang saat ini lebih fokus dalam menjalakan lembaga pendidikannya. Karena itu, penyelenggara dan pelaksana pendidikan Muhammadiyah harus ada kesamaan visi, sehingga dapat melihat dan mengamati dengan jelas pergerakan sekolah lain sebagai kompetitor.

Keinginan penyelenggara sekolah Muhammadiyah untuk terus berprestasi dan menjadi yang terbaik adalah keharusan. Namun,  tidak semudah membalikkan telapak tangan, sering kali dalam mewujudkan keinginan tersebut muncul tantangan dan hambatan menghadang. Tinggal bagaimana cara kita menghadapinya? Kecenderungan kita tidak mau yang sulit, lebih memilih yang mudah. Tantangan dianggap sesuatu yang menyulitkan, karena dalam menghadapinya dibutuhkan kerja keras dengan energi yang besar.

Oleh karena itu, Sekolah Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan islam tidak boleh memilih mudah saja atau merasa di zona aman, harus berani menciptakan SDM yang inovatif dalam menghadapi berbagi hambatan dan tantangan. Maka, kerangka berpikir sebagai juara sekolah-sekolah Muhammadiyah amat diperlukan agar tidak mudah mengeluh, menyerah dalam menghadapi tantangan serta hambatan. (*)

Penulis: Ir Sudarusman
Editor: Habibullah Al Irsyad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu