Siraman Rohani: Meraih Sukses Dunia dan Akhirat | Berita Populer Lazismu



Ustadz Abdul Hakim, MPdI (Lazismu)


MERAIH SUKSES DUNIA-AKHIRAT 
Abdul Hakim, M.Pd.I.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". QS Albaqoroh 201.

Kata sukses pasti  paling disukai setiap orang. Sukses atau berhasil meraih mimpi atau cita-cita itu sungguh nikmat yang membahagiakan. Misalnya sukses  menjadi orang kaya-raya. Sukses menjadi ilmuwan penemu, menjadi dokter, keliling dunia dengan sepeda, penulis produktif, menjadi motivator kondang, pengusaha besar, menjadi bintang. Meraih sukses itu sungguh mengasyikkan. Sebaliknya, gagal itu menyakitkan, bahkan bisa jadi biang stress, frustasi, dan depresi berkepanjangan.

Maka, jelas dan pasti tak seorang pun yang ingin  gagal. Meskipun tak sedikit pula orang harus menerima kegagalan sebagai kenyataan. Banyak orang bahkan,  harus berulang gagal dan gagal.   Tetapi, tidak sedikit yang menyadari  pesan bijak ini, “Gagal itu ternyata sukses tertunda.” Ya, banyak peraih sukses justru melalui  jalan berliku, harus berulang terpelanting, menelan pil pahit kegagalan.

Banyak kisah sukses terjadi justru  setelah berpuluh bahkan beratus kali  menelan   kegagalan. Kegagalan menjadi energy pemicu untuk bangkit. Ia bahkan  menjadi “gila” untuk terus menerobos dan menyibak rimba  gelap-pekat,demi meraih secercah cahaya. Tak peduli tantangan dan sulitnya medan.  Keyakinan menegaskan dirinya, di balik kegelapan itu  pasti ada cahaya. Di sisi kesulitan, ada kemudahan. Itu sunnatulloh. Keyakinan akan sunnatulloh itulah yang telah melahirkan beratus, bahkan beribu tokoh dan pahlawan yang brilian mewujudkan  amanat kehidupan sebagai abdullah, sekaligus sebagai khalifah-Nya.

Pada masa keemasan Islam, selama kurun waktu sepuluh abad lamanya, sejarah mencatat dengan tinta emas sejumlah tokoh muslim di panggung peradaban Islam, peraih berbagai supremasi ilmu dan teknologi dalam bidang matematika, fisika, kimia, biologi, kedokteran, astronomi, geografi, arsitektur, psikologi, dan  filsafat. Dunia tidak akan pernah melupakan nama besar ulama atau intelektual seperti Ibnu Sina, Aljabir, Ibnu Rusydi, Ibnu Hayyan,  Imam Al-Ghozali, Ibnu Khaldun, dan lainnya.

Para tokoh penemu dan ilmuwan muslim itu bangkit dari berbagai kendala dan kegagalan karena mereka sadar, ikhtiar yang mereka lakukan adalah ladang ilmu, iman, amal, ibadah, dan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Sukses para ilmuwan muslim itu berbasis nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kesemestaan atau rahmatan lil alamin. Alloh menyebut mereka sebaik-baik manusia atau khoirul bariyyah. Alloh memuliakan mereka  di dunia dan di akhirat. Mereka sukses menjadi abdullah, sekaligus menjadi khalifah, wakil Alloh di bumi. Penebar sebanyak-banyak manfaat dan kemuliaan. Mereka telah menjalankan kewajiban hablun minalloh dan hablun minannas sebagai dua bilah tak terpisahkan dalam satu keping mata uang. Itulah sukses  dalam perspektif Islam.

Bagaimanakah gambaran sukses yang menjadi obsesi orang kafir, musyrik, dan munafiq? Sukses yang diraih pejuang  ateis, sekuler, liberal (kafir)  itu ternyata hanya sebatas “pahala” dunia.  Sebutlah seorang James Watt (penemu mesin uap), Isac Newton (penemu teori gravitasi), Einstein (penemu teori relativitas), atau Thomas Alfa Edison (perintis dan penemu  lampu pijar). Atau pencipta idiologi materialisme dan komunisme seperti Nietzhe, Hegel,dan Karl Marx . Mereka adalah para tokoh penemu yang tidak memiliki komitmen ketuhanan dan kesemestaan.

Selain mengakibatkan krisis kemanusiaan, sukses para llmuwan kafir ini tidak mampu menyelamatkan mereka dari azab akhirat.
“Sungguh orang kafir dari ahli kitab dan kaum musyrik (dicampakkan) ke dalam neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka seburuk-buruk makhluk.” QS Albayyinah 6.

Kini dunia modern menikmati temuan yang lebih spektakuler, bukti sukses peradaban modern. Smartphone misalnya adalah produk teknologi informasi digital canggih berbasis internet yang  membenamkan beragam produk teknologi  sebelumnya.

Telepon, camera, surat kabar, radio, televisi, kalkulator, surat-menyurat, WA, facebook, instragram, referensi pustaka, kamus, ensiklopedi, penunjuk waktu, agenda, peta geografic, kompas, laptop, videocall, remote control, info kedokteran, kuliner, music, kitab suci, biografi, iptek, hunian, dan produk budaya lainnya ada dalam satu genggaman. Berkat smastphone, dunia tidak lagi berjarak. Semakin dekat, singkat, mudah, ringan, cepat, nikmat, nyaman.

Tetapi, kita harus pula lebih “cerdas” menerima dan menggunakan produk canggih sebagai symbol “sukses”. Teknologi adalah sarana kehidupan. Nilai kehidupan dalam pandangan Islam itu bukan sekedar untuk dinikmati di dunia.

Bagi seorang mukmin, akhirat itu yang utama, tanpa lupa memanfaatkan dunia. Betapa tidak seimbang sukses dunia yang sebentar dengan akhirat yang panjang tak terukur. “Sungguh orang kafir itu selamanya di neraka jahannam. Mereka seburuk manusia.  Sungguh orang beriman dan beramal salih itu sebaik-baik manusia. Surga tempat tinggal mereka selamanya.” QS Albayyinah 6-8.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu