Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Ustadz Muhammad Khairul Anam, S.Pd.I
LAZISMUSBY.COM

Meraih kasih sayang Allah dengan ihsan

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥
“ Dan tidaklah mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus “ (QS Al-Bayyinah: 5)

Segala puji hanya milik Allah swt, Dzat yang maha pengasih tak pilih kasih, Dzat yang maha penyayang tak pandang sayang
Salawat dan salam semoga selalu terhatur pada figur agung, Nabi Muhammad saw dengan segala kerendahan hati yang beliau miliki.

Ihsan dari sisi bahasa berasal dari kata kerja (fi’il) yakni hasana-yahsunu-hasanan yang artinya baik. Kemudian ada tambahan hamzah di depannya menjadi ihsana-yuhsinu-ihsanan yang bermakna memperbaiki atau berbuat baik.

Sedangkan menurut istilah makna ihsan umumnya diberi pengertian dari kutipan percakapan Nabi Muhammad saw dengan malaikat Jibril ketika Beliau menjelaskan makna ihsan yakni : “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu ...”,

Jadi dengan kata lain bahwa ihsan adalah beribadah dengan  ikhlas, baik yang berupa ibadah khusus ( shalat dan sejenisnya ) maupun ibadah yang bersifat umum ( aktivitas sosial ).

Pertanyaannya, kepada siapa saja kita harus berbuat ihsan ?.

kalau dilihat dari objeknya, tentu yang pertama kepada Allah swt, lalu ihsan kepada makhluk-Nya.

Ihsan kepada Allah swt, artinya menyembah dan beribadah hanya kepada-Nya semata, baik ibadah yang bersifat mahdhoh ( murni ) seperti salat, zakat, puasa dan sejenisnya, ataupun ibadah ghoiru mahdhoh (umum)  seperri ibadah sosial, belajar mengajar, berdagang adan sejenisnya.

Berdasarkan pengertian hadist tentang ihsan di atas, ihsan kepada Allah swt di bagi atas dua tingkatan:

Beribadah kepada Allah swt, seakan-akan melihat-Nya. Tingkatan ini tingkatan yang tertinggi, karena berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan dengan cara menuju dan berusaha mndekatkan diri kepada-Nya.

Kedua, berribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt melihatnya. Ini lebih rendah dari tingkatan diatas. Karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi dan takut akan hukuman. Kedua jenis ihsan inilah yang akan menghantarkan pelakunya kepada puncak keikhlasan dalam beribadah kepada Allah swt dan jauh dari motif riya’.

Ihsan kepada sesama makhluk ciptaanNya. Dalam QS Al-Qashash:77, Allah swt berfirman yang artinya “dan berbuat baiklah (kepada yang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “. Dari berbagai ayat dan hadist, berbuat ihsan dilakukan kepada semua makhluk ciptaan Allah.

Lebih konkritnya adalah sebagai berikut:
Ihsan kepada orang tua. Q.S. Al-Isra’ : 24 yang artinya “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia, dan hendaknya kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ...”.

Ihsan kepada anak yatim. Berbuat baik kepada anak yatim dengan cara menyantuninya dan mendidiknya. Hadist riwayat Al-Bukhori, Abu Dawud dan At-Tirmidzi yang artinya “ Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini ( seraya nabi menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ) “.

Ihsan kepada fakir miskin. Berbuat baik dengan cara memberi bantuan disaat mereka membutuhkannya. Sabda Beliau saw yang artinya “ orang-orang yang menolong janda dan orang miskin, seperti orang yang berjuang di jalan Allah (HR Muslim dari sahabat Abi Hurairah).

Ihsan kepada tetangga. Ihsan ini meliputi tetangga dekat ataupun tetangga jauh. Rasul saw bersabda “ Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman “ sahabat bertanya  : “ siapa yang tidak beriman ya Rasulullah ?. Belaiu menjawab “ seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya “. (HR Asy-syaikhani).

Ihsan kepada tamu. Secara umum dengan cara menghormati dan menjamunya. Rasulullah saw bersabda “ Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia hormati tamunya (HR Jama’ah kecuali An-Nasa’i).

Dan masih banyak lagi ihsan-ihsan yang dilakukan kepada sesama makhluk-Nya. Perbaiki diri kita dalam hal ibadah, sehingga keihsanan yang murni karena mengharap ridha  Allah swt dapat kita raih. (*)

Penulis: Khairul Anam, SPdI
Editor: Habibullah Al Irsyad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu