Butuh Spirit Intelektualitas Yang Praktis


M. Arief An, SH

LAZISMUSBY.COM

Seiring dengan konsistensi sekolah-sekolah swasta salah satunya sekolah Muhammadiyah menuntut beberapa regulasi pemeritah perihal pembatasan rombel dan sistem penerimaan siswa baru sebagaimana kita lihat melalui beberapa kali pertemuan Kelompok Kerja Kepala Sekolah Muhammadiyah (K3SM) dengan penyelenggara Majelis Dikdasmen bahkan dengan pemilik sekolah Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah.

Apalagi dengan ketidaksiapan lembaga pendidikan yang dikelola persyarikatan Muhammadiyah untuk mengimplementasikan regulasi pembatasan jumlah batasan rombongan belajar, kepanikan yang dipicu pembatasan rombel memang amat dirasakan oleh beberapa sekolah besar yang selamai ini menerima jumlah siswa yang relatif banyak, tidak hanya sekolah besar, tapi sekolah kecilpun yang jumlah siswanya yang pas-pasan semakin kesulitan meningkatkan jumlah siswanya.

Namun harus segera disadari bahwa kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam memecahkan persolan regulasi pemerintah saat ini bersumber dari satu jenis “spirit intelektual yang praktis” artinya para pimpinan baik pemilik, penyelenggara maupun pelaksana Amal Usaha Muhammadiyah  (AUM) terutama sekolah dituntut memiliki intelektualitas praktis, kemampuan untuk berinovasi, berimprovisasi, membaca situasi secara riil, menangkap peluang hingga kesiapan mengelolah aset dan panda mencari solusi.

Dalam pengamatan saya, pemimpin-pemimpin yang sukses dan mampu menghadapi segala persoalan serta sigap dalam menghadapi perubahan adalah pemimpin yang memiliki spirit intelektualitas praktis. Sebaliknya, pemimpin yang miskin intelektualitas praktis akan menemui kegagalan memberikan pilihan-pilihan moral dan harapan baru untuk bangkit mencipta dan menangkap peluang.

Spirit intelektualitas praktis adalah kekayaan terbesar orang-orang yang memiliki keyakinan kebesaran Allah. Orang-orang ini sanggup, tanpa kenal lelah, tidak penah berhenti berkarya, mereka senantiasa mecari sisi-sisi kebaikan dari seluruh peristiwa, betapun tampak pahit dan menyedihkan. Dia tidak memiliki waktu yang disia-siakan untuk berprasangka buruk, iri dan dengki. Dan yang paling penting mereka selalu berupaya menjelmakan suatu konsep menjadi realitas, suatu peluang menjadi hasil, suatu potensi menjadi prestasi.

Seorang yang memiliki intelektualitas praktis sangat menjiwai pola pikir dan semangat merencanakan dan menari solusi sehingga menjadi kebiasaan dan muncul begitu saja dalam perilaku sehari-hari tanpa pengaturan terlebih dahulu. Inilah salah satu kunci untuk sukses menghadapi persaingan antar sekolah yang semakin terbuka dalam era percepatan pengetahuan dan teknologi yang terjadi saat ini.

*Penulis: M.Arif ’An, S.H. (Sekretaris PDM surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu